Sabtu, 03 November 2007

Kumpulan Tajuk-ku

Tajuk Ini terbit pada Harian Pagi Nirmala Post(pantura Jawa Tengah)
Tajuk03-11-2007
Kinerja Asal Bapak Senang
Sudah sepatutnya bawahan tunduk dan taat pada atasan. Sudah sewajarnya jika ada anak buah ingin memberikan karya dan laporan perfect pada atasannya. Sudah lazim, sudah menjadi hal umum, dan memang harus begitu kinerja anak buah yang baik, yang profesional. Memberikan karya dan laporan kinerja secara sempurna sehingga atasan senang, memungkinkan untuk naik jabatan atau dipromosikan.
Tunduk dan patuhnya bawahan pada atasan adalah hukum sebab-akibat mutlak dalam konsep menejemen. Bahkan atasan yang tidak mampu membuat bawahan tunduk pada perintahnya, kapasitasnya patut diragukan. Semua itu ada dalam konteks kerja profesional, kinerja yang dilaporkan ialah pekerjaan yang telah selesai, minimal sedang digarap. Laporan sempurna berarti laporan berdasarkan fakta lapangan, fakta hasil kerja riil sebuah lembaga, divisi.
Jika laporan yang disusun bersifat hanya untuk menyenangkan atasan, untuk menampakan kinerja yang terkesan bagus, itu kinerja asal bapak senang, targetnya hanya menyenangkan atasan seusai membaca laporan.
Apa yang terjadi di Perusahaan Daerah Air minum (PDAM) dapat dikatakan menganut etos asal bapak senang. Pasalnya, Walikota Tegal sebagai atasan langsung PDAM selalu mendapat laporan menyenangkan dan hasil kerja purna, padahal sebaliknya.Masyarakat umum bisa menilai bagaimana kinerja PDAM, tidak perlu kaliber walikota yang punya laporan dari berbagai sumber, di kanan dan kiri.
Jika sudah bisa menilai etos kerja anutan PDAM, maka sebagai atasan langsung sangat perlu untuk mengambil tindakan perbaikan. Walau masih bersifat statemen, perintah memecat pekerja PDAM yang merugikan rakyat dan perusahaan adalah langkah tepat. Tinggal ditindaklanjuti menjadi langkah nyata, sebagai upaya kongkrit.
Bila atasan sudah mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya, ia perlu menunjukan kapasitasnya, sebagai atasan yang harus dipatuhi bawahan. Jangan sampai warning tidak dipatuhi, sebagaimana perintah untuk bekerja baik ternyata tidak dipatuhi, yang ada kerja buruk dilaporkan baik.
Pun, kita bisa menarik kesimpulan sederhana bahwa selama ini laporan berdasarkan paper report, sekedar diatas kertas masih jadi trend pada arus utama kebijakan kota. Sekedar laporan diatas kertas cukup untuk menunjukan kesejatian pelaksanaan kerja lapangan. Apa yang terjadi di PDAM harus diamputasi secepat mungkin, rasionalisasi pekerja, karyawan, jika perlu seleksi ulang untuk menguji kredibilitas mereka semua. Sebab hal tersebut terkait etos kerja yang sudah menahun melekat jadi gaya kerja satu perusahaan. Jika ada satu orang yang baik saja, barangkali ada satu pelanggan yang merasa puas juga. Nyatanya walikota memperoleh jawaban tak satupun warga merasa puas ketika ditanya bagaimana layanan PDAM -d

Tajuk 02-11--2007
Pengendalian Banjir
Data di Kota Tegal mengidentifikasi 18 titik rawan banjir. Banjir di Kota ini tidak perlu dikhawatirkan mengingat kondisi geografis yang tidak memiliki sungai pelanggan banjir. Tidak hanya Kota Tegal, daerah perkotaan dari Brebes hingga Pekalongan dan Batang masih diancam resiko yang sama, banjir besar atau kecil.
Daerah pesisir merupakan areal muara bagi aliran sungai atau air di daerah selatan, pegunungan. Jika terjadi kerusakan di daerah selatan yang menjadi hulu sumber air, lantas menyebabkan banjir, daerah muara ikut menanggung resiko. Oleh sebab itu kebijakan pengendalian air tidak bisa dikerjakan secara sektoral oleh suatu daerah. Harus ada kebijakan terintegrasi yang melintasi berbagai aspek.
Bagi Kota Tegal, banjir yang terjadi di titik endemik banjir bukan ancaman serius, tetapi bukan pula perkara yang bisa diabaikan begitu saja. Kecuali pemukiman sekitar DAS Kali Kemiri, banjir lumayan besar pernah merendam daerah ini. Saat ini saluran air untuk memperlancar proses disposal air dibangun serentak. Perkara pembangunan itu sudah terintegrasi dalam system menejemen pengendalian air atau tidak, adalah soal lain.
Jika pengendalian air sudah tersusun dalam satu rencana kerja gradual berkesinambungan maka ancaman banjir yang bersifat lokal tidak perlu ada. Untuk mewujudkan itu semua bukan perkara mudah. Membutuhkan kerjasama lintas sektor. Sementara kerjasama antar sektor membutuhkan waktu, komitmen dan dana cukup besar termasuk iklim saling mendukung antar institusi.
Masyarakat sudah merindukan Kota Tegal yang tidak lagi tergenang banjir saat hujan deras mengguyur, entah sedikit atau banyak. Terutama pada pemukiman padat penduduk. Mempersiapkan sarana penanganan jika terjadi bencana banjir dalam skala besar, merupakan keniscayaan. Memang pemerintah daerah harus menyiapkan rencana penyelamatan jika bencana datang.
Bagi penduduk di areal rawan banjir, warning ancaman banjir tidak asing lagi, sebab dari tahun ke tahun selalu saja ancaman itu datang. Dan belum ada rencana kongkrit system penanggulangan. Infrastruktur sudah dibangun, tetapi banjir selalu muncul. Jika bukan banjir akibat hujan, limpasan air laut juga menjadi salah satu ancaman bagi beberapa daerah di titik rawan banjir.
Soal banjir yang kerap merendam sebagian Kota Tegal sudah berlangsung lama, bukan masalah baru. Seharusnya cara pengendalian banjir pun sudah ada sejak lama. Jika ditahun 2007 dan tahun 2008 nanti banjir masih menggenangi Kota Tegal, limpasan air masih ada, selokan yang ada tidak bisa menyalurkan air, apakah daerah ini dikatakan sukses membangun sistem pengendalian air.
Dibutuhkan pula kesadaran masyarakat memelihara infrastruktur saluran air yang ada. Tidak perlu ada sampah menyebabkan saluran tersumbat, juga tidak perlu ada saluran yang malfungsi akibat salah perencanaan-d

Tajuk01-11-2007
Mitigasi Bencana
Di tanah Republik yang berbasis kepulauan, membuat rona wilayah kita sangat berdekatan dengan areal bukit dan deret gunung yang masih aktif. Oleh karenanya ancaman bencana akibat gunung meletus juga relatif tinggi. Ditambah kondisi perbukitan dan gugusan gunung yang membentuk kawasan tinggi semakin mempertegas ancaman kondisi alam, longsor.
Bencana adalah keniscayaan ketika alam rusak. Dan tidak bisa kita menafikkan diri dari kekayaan, manfaat alam perbukitan, pegunungan. Keadaan tanah di sekitar gunung tentu menjadi daya dukung sektor pertanian dan potensi wisata yang tinggi. Jika mengukur tingkat keberuntungan, rasanya tiada perbedaan antara dataran tinggi atau dataran rendah. Keduanya beresiko menangguk bencana alam.
Di dataran rendah, ada ancaman tsunami dan gempa. Di dataran tinggi ancaman longsor dan gunung meletus adalah dua perkara yang populer di masyarakat. Di manapun berada ancaman bencana senantiasa ada. Teknologi yang ada sekedar mendeteksi sesudah kejadian, baik bencana dalam tahap gejala atau sudah terjadi dalam skala rendah. Teknologi belum dapat memindahkan bencana apalagi menghalau bencana, sekaligus memprediksi akurat.
Yang perlu kita kerjakan adalah kesadaran untuk membangun menejemen lingkungan yang integrated, menyeluruh dan berkesinambungan. Keadaan alam bagaimanapun ramahnya senantiasa menyimpan banyak kemungkinan, sebab kita tidak tahu kapan lapisan bumi ini bergerak. Kita hanya memprediksi dengan nama potensi. Ancaman longsor di Pemalang, mengintai 51 desa adalah masalah serius.
Rasanya kita perlu melihat, bagaimana pemerintah mendekati alam disana. Mengeksploitasi alam tidak sama dengan memanfaatkan alam. Memanfaatan alam masih mengandung unsur menjaga keseimbangan, mengambil manfaat, misal kayu dan material dengan tetap memperhatikan kesimbangan, kekuatan alam mentolerir perubahan struktur dirinya.
Untuk itu perlu ada jaminan bagi kelangsungan alam tetap lestari. Boleh memanfaatkan alam, mengambil kayu, menebang pohon asal tidak melupakan perhitungan penghijauan, menyeimbangkan laju penebangan dengan laju pertumbuhan pohon. Mengintensifkan program perlindungan alam sampai tingkat basis. Rasanya masyarakat juga tidak akan menebang pohon cukup banyak jika tidak ada permintaan dari luar yang mendorong hasrat penebangan pohon secara masal.
Pemda harus menyentuh kelompok ini, para pemicu dan penggerak penebang pohon. Jangan sampai rakyat jelata yang terhimpit ekonomi sekedar dijadikan alat untuk proses deforestasi alam. Maka sangat diperlukan program terpadu, menyeluruh dalam pembangunan berwawasan lingkungan. Rencana yang tepat dan serentak di berbagai daerah, sebab peredaran hasil hutan sudah tidak lagi mengenal batas wilayah yang jelas. Tidak ketinggalan mempersipkan menejemen penanganan bencana yang tepat, cepat dan efesien-d

Tidak ada komentar: