Tajuk Ini terbit pada Harian Pagi Nirmala Post(pantura Jawa Tengah)
Tajuk03-11-2007
Kinerja Asal Bapak Senang
Sudah sepatutnya bawahan tunduk dan taat pada atasan. Sudah sewajarnya jika ada anak buah ingin memberikan karya dan laporan perfect pada atasannya. Sudah lazim, sudah menjadi hal umum, dan memang harus begitu kinerja anak buah yang baik, yang profesional. Memberikan karya dan laporan kinerja secara sempurna sehingga atasan senang, memungkinkan untuk naik jabatan atau dipromosikan.
Tunduk dan patuhnya bawahan pada atasan adalah hukum sebab-akibat mutlak dalam konsep menejemen. Bahkan atasan yang tidak mampu membuat bawahan tunduk pada perintahnya, kapasitasnya patut diragukan. Semua itu ada dalam konteks kerja profesional, kinerja yang dilaporkan ialah pekerjaan yang telah selesai, minimal sedang digarap. Laporan sempurna berarti laporan berdasarkan fakta lapangan, fakta hasil kerja riil sebuah lembaga, divisi.
Jika laporan yang disusun bersifat hanya untuk menyenangkan atasan, untuk menampakan kinerja yang terkesan bagus, itu kinerja asal bapak senang, targetnya hanya menyenangkan atasan seusai membaca laporan.
Apa yang terjadi di Perusahaan Daerah Air minum (PDAM) dapat dikatakan menganut etos asal bapak senang. Pasalnya, Walikota Tegal sebagai atasan langsung PDAM selalu mendapat laporan menyenangkan dan hasil kerja purna, padahal sebaliknya.Masyarakat umum bisa menilai bagaimana kinerja PDAM, tidak perlu kaliber walikota yang punya laporan dari berbagai sumber, di kanan dan kiri.
Jika sudah bisa menilai etos kerja anutan PDAM, maka sebagai atasan langsung sangat perlu untuk mengambil tindakan perbaikan. Walau masih bersifat statemen, perintah memecat pekerja PDAM yang merugikan rakyat dan perusahaan adalah langkah tepat. Tinggal ditindaklanjuti menjadi langkah nyata, sebagai upaya kongkrit.
Bila atasan sudah mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya, ia perlu menunjukan kapasitasnya, sebagai atasan yang harus dipatuhi bawahan. Jangan sampai warning tidak dipatuhi, sebagaimana perintah untuk bekerja baik ternyata tidak dipatuhi, yang ada kerja buruk dilaporkan baik.
Pun, kita bisa menarik kesimpulan sederhana bahwa selama ini laporan berdasarkan paper report, sekedar diatas kertas masih jadi trend pada arus utama kebijakan kota. Sekedar laporan diatas kertas cukup untuk menunjukan kesejatian pelaksanaan kerja lapangan. Apa yang terjadi di PDAM harus diamputasi secepat mungkin, rasionalisasi pekerja, karyawan, jika perlu seleksi ulang untuk menguji kredibilitas mereka semua. Sebab hal tersebut terkait etos kerja yang sudah menahun melekat jadi gaya kerja satu perusahaan. Jika ada satu orang yang baik saja, barangkali ada satu pelanggan yang merasa puas juga. Nyatanya walikota memperoleh jawaban tak satupun warga merasa puas ketika ditanya bagaimana layanan PDAM -d
Tajuk 02-11--2007
Pengendalian Banjir
Data di Kota Tegal mengidentifikasi 18 titik rawan banjir. Banjir di Kota ini tidak perlu dikhawatirkan mengingat kondisi geografis yang tidak memiliki sungai pelanggan banjir. Tidak hanya Kota Tegal, daerah perkotaan dari Brebes hingga Pekalongan dan Batang masih diancam resiko yang sama, banjir besar atau kecil.
Daerah pesisir merupakan areal muara bagi aliran sungai atau air di daerah selatan, pegunungan. Jika terjadi kerusakan di daerah selatan yang menjadi hulu sumber air, lantas menyebabkan banjir, daerah muara ikut menanggung resiko. Oleh sebab itu kebijakan pengendalian air tidak bisa dikerjakan secara sektoral oleh suatu daerah. Harus ada kebijakan terintegrasi yang melintasi berbagai aspek.
Bagi Kota Tegal, banjir yang terjadi di titik endemik banjir bukan ancaman serius, tetapi bukan pula perkara yang bisa diabaikan begitu saja. Kecuali pemukiman sekitar DAS Kali Kemiri, banjir lumayan besar pernah merendam daerah ini. Saat ini saluran air untuk memperlancar proses disposal air dibangun serentak. Perkara pembangunan itu sudah terintegrasi dalam system menejemen pengendalian air atau tidak, adalah soal lain.
Jika pengendalian air sudah tersusun dalam satu rencana kerja gradual berkesinambungan maka ancaman banjir yang bersifat lokal tidak perlu ada. Untuk mewujudkan itu semua bukan perkara mudah. Membutuhkan kerjasama lintas sektor. Sementara kerjasama antar sektor membutuhkan waktu, komitmen dan dana cukup besar termasuk iklim saling mendukung antar institusi.
Masyarakat sudah merindukan Kota Tegal yang tidak lagi tergenang banjir saat hujan deras mengguyur, entah sedikit atau banyak. Terutama pada pemukiman padat penduduk. Mempersiapkan sarana penanganan jika terjadi bencana banjir dalam skala besar, merupakan keniscayaan. Memang pemerintah daerah harus menyiapkan rencana penyelamatan jika bencana datang.
Bagi penduduk di areal rawan banjir, warning ancaman banjir tidak asing lagi, sebab dari tahun ke tahun selalu saja ancaman itu datang. Dan belum ada rencana kongkrit system penanggulangan. Infrastruktur sudah dibangun, tetapi banjir selalu muncul. Jika bukan banjir akibat hujan, limpasan air laut juga menjadi salah satu ancaman bagi beberapa daerah di titik rawan banjir.
Soal banjir yang kerap merendam sebagian Kota Tegal sudah berlangsung lama, bukan masalah baru. Seharusnya cara pengendalian banjir pun sudah ada sejak lama. Jika ditahun 2007 dan tahun 2008 nanti banjir masih menggenangi Kota Tegal, limpasan air masih ada, selokan yang ada tidak bisa menyalurkan air, apakah daerah ini dikatakan sukses membangun sistem pengendalian air.
Dibutuhkan pula kesadaran masyarakat memelihara infrastruktur saluran air yang ada. Tidak perlu ada sampah menyebabkan saluran tersumbat, juga tidak perlu ada saluran yang malfungsi akibat salah perencanaan-d
Tajuk01-11-2007
Mitigasi Bencana
Di tanah Republik yang berbasis kepulauan, membuat rona wilayah kita sangat berdekatan dengan areal bukit dan deret gunung yang masih aktif. Oleh karenanya ancaman bencana akibat gunung meletus juga relatif tinggi. Ditambah kondisi perbukitan dan gugusan gunung yang membentuk kawasan tinggi semakin mempertegas ancaman kondisi alam, longsor.
Bencana adalah keniscayaan ketika alam rusak. Dan tidak bisa kita menafikkan diri dari kekayaan, manfaat alam perbukitan, pegunungan. Keadaan tanah di sekitar gunung tentu menjadi daya dukung sektor pertanian dan potensi wisata yang tinggi. Jika mengukur tingkat keberuntungan, rasanya tiada perbedaan antara dataran tinggi atau dataran rendah. Keduanya beresiko menangguk bencana alam.
Di dataran rendah, ada ancaman tsunami dan gempa. Di dataran tinggi ancaman longsor dan gunung meletus adalah dua perkara yang populer di masyarakat. Di manapun berada ancaman bencana senantiasa ada. Teknologi yang ada sekedar mendeteksi sesudah kejadian, baik bencana dalam tahap gejala atau sudah terjadi dalam skala rendah. Teknologi belum dapat memindahkan bencana apalagi menghalau bencana, sekaligus memprediksi akurat.
Yang perlu kita kerjakan adalah kesadaran untuk membangun menejemen lingkungan yang integrated, menyeluruh dan berkesinambungan. Keadaan alam bagaimanapun ramahnya senantiasa menyimpan banyak kemungkinan, sebab kita tidak tahu kapan lapisan bumi ini bergerak. Kita hanya memprediksi dengan nama potensi. Ancaman longsor di Pemalang, mengintai 51 desa adalah masalah serius.
Rasanya kita perlu melihat, bagaimana pemerintah mendekati alam disana. Mengeksploitasi alam tidak sama dengan memanfaatkan alam. Memanfaatan alam masih mengandung unsur menjaga keseimbangan, mengambil manfaat, misal kayu dan material dengan tetap memperhatikan kesimbangan, kekuatan alam mentolerir perubahan struktur dirinya.
Untuk itu perlu ada jaminan bagi kelangsungan alam tetap lestari. Boleh memanfaatkan alam, mengambil kayu, menebang pohon asal tidak melupakan perhitungan penghijauan, menyeimbangkan laju penebangan dengan laju pertumbuhan pohon. Mengintensifkan program perlindungan alam sampai tingkat basis. Rasanya masyarakat juga tidak akan menebang pohon cukup banyak jika tidak ada permintaan dari luar yang mendorong hasrat penebangan pohon secara masal.
Pemda harus menyentuh kelompok ini, para pemicu dan penggerak penebang pohon. Jangan sampai rakyat jelata yang terhimpit ekonomi sekedar dijadikan alat untuk proses deforestasi alam. Maka sangat diperlukan program terpadu, menyeluruh dalam pembangunan berwawasan lingkungan. Rencana yang tepat dan serentak di berbagai daerah, sebab peredaran hasil hutan sudah tidak lagi mengenal batas wilayah yang jelas. Tidak ketinggalan mempersipkan menejemen penanganan bencana yang tepat, cepat dan efesien-d
Sabtu, 03 November 2007
Tajuk Lingkungan (November)
Tajuk 01-11-2007
Mitigasi Bencana
Di tanah Republik yang berbasis kepulauan, membuat rona wilayah kita sangat berdekatan dengan areal bukit dan deret gunung yang masih aktif. Oleh karenanya ancaman bencana akibat gunung meletus juga relatif tinggi. Ditambah kondisi perbukitan dan gugusan gunung yang membentuk kawasan tinggi semakin mempertegas ancaman kondisi alam, longsor.
Bencana adalah keniscayaan ketika alam rusak. Dan tidak bisa kita menafikkan diri dari kekayaan, manfaat alam perbukitan, pegunungan. Keadaan tanah di sekitar gunung tentu menjadi daya dukung sektor pertanian dan potensi wisata yang tinggi. Jika mengukur tingkat keberuntungan, rasanya tiada perbedaan antara dataran tinggi atau dataran rendah. Keduanya beresiko menangguk bencana alam.
Di dataran rendah, ada ancaman tsunami dan gempa. Di dataran tinggi ancaman longsor dan gunung meletus adalah dua perkara yang populer di masyarakat. Di manapun berada ancaman bencana senantiasa ada. Teknologi yang ada sekedar mendeteksi sesudah kejadian, baik bencana dalam tahap gejala atau sudah terjadi dalam skala rendah. Teknologi belum dapat memindahkan bencana apalagi menghalau bencana, sekaligus memprediksi akurat.
Yang perlu kita kerjakan adalah kesadaran untuk membangun menejemen lingkungan yang integrated, menyeluruh dan berkesinambungan. Keadaan alam bagaimanapun ramahnya senantiasa menyimpan banyak kemungkinan, sebab kita tidak tahu kapan lapisan bumi ini bergerak. Kita hanya memprediksi dengan nama potensi. Ancaman longsor di Pemalang, mengintai 51 desa adalah masalah serius.
Rasanya kita perlu melihat, bagaimana pemerintah mendekati alam disana. Mengeksploitasi alam tidak sama dengan memanfaatkan alam. Memanfaatan alam masih mengandung unsur menjaga keseimbangan, mengambil manfaat, misal kayu dan material dengan tetap memperhatikan kesimbangan, kekuatan alam mentolerir perubahan struktur dirinya.
Untuk itu perlu ada jaminan bagi kelangsungan alam tetap lestari. Boleh memanfaatkan alam, mengambil kayu, menebang pohon asal tidak melupakan perhitungan penghijauan, menyeimbangkan laju penebangan dengan laju pertumbuhan pohon. Mengintensifkan program perlindungan alam sampai tingkat basis. Rasanya masyarakat juga tidak akan menebang pohon cukup banyak jika tidak ada permintaan dari luar yang mendorong hasrat penebangan pohon secara masal.
Pemda harus menyentuh kelompok ini, para pemicu dan penggerak penebang pohon. Jangan sampai rakyat jelata yang terhimpit ekonomi sekedar dijadikan alat untuk proses deforestasi alam. Maka sangat diperlukan program terpadu, menyeluruh dalam pembangunan berwawasan lingkungan. Rencana yang tepat dan serentak di berbagai daerah, sebab peredaran hasil hutan sudah tidak lagi mengenal batas wilayah yang jelas. Tidak ketinggalan mempersipkan menejemen penanganan bencana yang tepat, cepat dan efesien-d
Mitigasi Bencana
Di tanah Republik yang berbasis kepulauan, membuat rona wilayah kita sangat berdekatan dengan areal bukit dan deret gunung yang masih aktif. Oleh karenanya ancaman bencana akibat gunung meletus juga relatif tinggi. Ditambah kondisi perbukitan dan gugusan gunung yang membentuk kawasan tinggi semakin mempertegas ancaman kondisi alam, longsor.
Bencana adalah keniscayaan ketika alam rusak. Dan tidak bisa kita menafikkan diri dari kekayaan, manfaat alam perbukitan, pegunungan. Keadaan tanah di sekitar gunung tentu menjadi daya dukung sektor pertanian dan potensi wisata yang tinggi. Jika mengukur tingkat keberuntungan, rasanya tiada perbedaan antara dataran tinggi atau dataran rendah. Keduanya beresiko menangguk bencana alam.
Di dataran rendah, ada ancaman tsunami dan gempa. Di dataran tinggi ancaman longsor dan gunung meletus adalah dua perkara yang populer di masyarakat. Di manapun berada ancaman bencana senantiasa ada. Teknologi yang ada sekedar mendeteksi sesudah kejadian, baik bencana dalam tahap gejala atau sudah terjadi dalam skala rendah. Teknologi belum dapat memindahkan bencana apalagi menghalau bencana, sekaligus memprediksi akurat.
Yang perlu kita kerjakan adalah kesadaran untuk membangun menejemen lingkungan yang integrated, menyeluruh dan berkesinambungan. Keadaan alam bagaimanapun ramahnya senantiasa menyimpan banyak kemungkinan, sebab kita tidak tahu kapan lapisan bumi ini bergerak. Kita hanya memprediksi dengan nama potensi. Ancaman longsor di Pemalang, mengintai 51 desa adalah masalah serius.
Rasanya kita perlu melihat, bagaimana pemerintah mendekati alam disana. Mengeksploitasi alam tidak sama dengan memanfaatkan alam. Memanfaatan alam masih mengandung unsur menjaga keseimbangan, mengambil manfaat, misal kayu dan material dengan tetap memperhatikan kesimbangan, kekuatan alam mentolerir perubahan struktur dirinya.
Untuk itu perlu ada jaminan bagi kelangsungan alam tetap lestari. Boleh memanfaatkan alam, mengambil kayu, menebang pohon asal tidak melupakan perhitungan penghijauan, menyeimbangkan laju penebangan dengan laju pertumbuhan pohon. Mengintensifkan program perlindungan alam sampai tingkat basis. Rasanya masyarakat juga tidak akan menebang pohon cukup banyak jika tidak ada permintaan dari luar yang mendorong hasrat penebangan pohon secara masal.
Pemda harus menyentuh kelompok ini, para pemicu dan penggerak penebang pohon. Jangan sampai rakyat jelata yang terhimpit ekonomi sekedar dijadikan alat untuk proses deforestasi alam. Maka sangat diperlukan program terpadu, menyeluruh dalam pembangunan berwawasan lingkungan. Rencana yang tepat dan serentak di berbagai daerah, sebab peredaran hasil hutan sudah tidak lagi mengenal batas wilayah yang jelas. Tidak ketinggalan mempersipkan menejemen penanganan bencana yang tepat, cepat dan efesien-d
Pilkada, Jalan Moratorium Pemekaran daerah
Pilkadal, Jalan Moratorium Pemekaran Daerah
Oleh : Hudjolly
Perubahan estafet kekuasaan lewat pilkada langsung ternyata punya implikasi berbeda. Pilkada langsung bisa menganulir sementara, seolah memberi moratorium pada proses pemekaran (tepatnya pembelahan) daerah. Contoh nyata di Brebes, kabupaten terluas ke-2 di Jateng sesudah cilacap. Pilkada Brebes sudah memasuki tahap serius, point of no return, kemarin tanggal 4 Noveber, pungutan suara berlangsung.
Ada empat nama pasangan yang akan ditorehkan dalam sejarah Brebes, sebagai kandidat-kandidat pertama peserta pilkada langsung. Tetapi endemi penyakit kepempimpinan nasional juga terjadi di kabupaten penghasil bawang merah ini. Endemi itu adalah penyakit kelangkaan wajah baru dalam bursa kepemimpinan. Calon yang berani maju ya wajah itu-itu juga. Dari periode silam, selama kurun waktu lima tahun nyaris tidak ada ketokohan yang menyeruak, paling baju baru, stock lama.
Dua pasang berasal dari pejabat incumbent, bupati, dan wakil bupati yang masih menjabat. Seperti lazimnya logika kekuasaan, yang sudah menjabat, ingin menjabat lagi, yang hanya kebagian kursi wakil, tentu ingin naik tahta. Bak sang wapres JK yang naga-naganya berusaha naik mimbar, kini tengah berusaha membangun citra publik, mumpung urusan image sudah tidak di-I don’t care-lagi oleh SBY.
Kandidat berikutnya tokoh partai yang tidak seranta, ogah diam melihat peluang empuk jadi kepala daerah. Padahal saat itu jabatan empuk, sebagai ketua dewan, sebagai sekretaris daerah sudah tergenggam. Mungkin tertular epidemi Akbar Tanjung yang sumringah bersaing dalam bursa konvensi, dulu. Ke empat pasangan berjanji akan membawa perubahan lebih baik bagi rakyat Brebes di masa mendatang. Itu isi kampanye mereka.
Moratorium
Tetapi bagi semua politisi Brebes, ada sebuah agenda politik terlupakan. Pemekaran (pembelahan) Brebes menjadi dua kabupaten, Brebes Selatan yang berpusat di kecamatan Bumiayu, dan Brebes Utara. Brebes Selatan bakal terdiri-setidaknya-enam kecamatan besar, terletak 60 kilometer lebih dari Brebes Utara, pusat pemerintahan sekarang. Agenda pemekaran sempat menyeruak bulat hingga berwujud deklarasi pemekaran Brebes Selatan. Panitia sudah terbentuk, berbagai surat sudah dilayangkan untuk mendorong terwujudnya Brebes Selatan, termasuk mensponsori pencetakan’rekor’ jalan kaki menemui presiden sambil membawa proposal pemekaran. Ide pemekaran maujud pasca pemilu 2002 silam, konon sih ide lama. Saat ikon politik Bumiayu, mantan ketua PC NU Brebes urung jadi orang nomor satu, cukup jadi wakil. Merebaklah ide pemekaran.
Kini semua itu tenggelam oleh gegap gempita pilkada Brebes. Belakangan sang ikon muncul jadi calon bupati, berharap meraup suara dari basis masa di Brebes Selatan. Dan satu tahun menjelang pilkada, terhentilah agenda pemekaran. Dari situ tercetus moratorium pemekaran lewat Pilkada(l).
Katalisator
Ada yang menarik dari moratorium ini. Pertama spekulasi pendapat bahwa ide pemekaran/pembelahan bertransformasi menjadi medan perantara, agar energi tetap mencapai tujuan, menuju kursi kepala daerah. Dengan membuka lahan baru, berarti menciptakan kekosongan kursi kepala daerah baru. Ini sebuah langkah gres untuk menebus kekalahan lama pada pemilu 2002 terlanjur tutup. Teori ini akan diuji pasca pilkada pada 4 November 2007, jika kemenangan ada pada incumbent, kemungkinan besar ide pemekaran akan bergeliat kembali.
Yang kedua, teori bahwa pilkada(l) memberikan efek baru berupa penurunan tensi politik dan perebutan kekuasaan. Dengan sistem demokrasi lama, ‘suara tuhan’ ditransmisikan pada wakil rakyat yang duduk di dewan. Anggota legislatif memegang peran akhir siapa pemimpin sebuah daerah. Di lain pihak, banyak suara rakyat tidak terepresentasi dalam keputusan lembaga legislatif. Kemenangan voting seorang politisi di ruang paripurna dewan tidak serta merta melambangkan legitimasi publik padanya.
Alih-alih memberikankarya terbaik buat rakyat, periode kepemimpinan daerah menjadi masa politik etis terhadap legislatif. Keadaan ini semakin mendelegitimasi kepemimpinan daerah.
Studi kasus Brebes, teori pertama ditandai dengan jargon pemekaran yang tinggal jadi legenda. Propaganda awal semasa penggalangan ide pemekeran berupa janji membangun kekuatan otonomi baru, mendekatkan layanan publik pada rakyat, agar mengurus akte kelahiran saja tidak perlu menembus 68 kilometer perjalanan, menghabiskan waktu dalam bus seharian, semua jargon mulai pupus.
Pelayanan Publik
Di sisi lain unpredictable increase terjadi, muncul mendagri baru, Mardiyanto yang manut menunaikan titah seniornya, Ma’ruf untuk meneruskan agenda penyempurnaan PP No 129/2007, tentang persyaratan pembentukan dan kriteria pemekaran, penghapusan, dan penggabungan daerah (Kompas 1/9). Ya, Brebes Selatan yang belum lahir terpaksa benar-benar urung lahir sama sekali, dan itu lebih baik daripada premature sekedar memenuhi keinginan bidan semata.
Mau tidak mau penyempurnaan PP akan berakibat pada perubahan segala macam persyaratan bagi daerah yang ingin terus mekar, membelah diri. Meski persyaratan diperketat, di Indonesia segalanya mungkin. Tapi tidak semudah itu, persyaratan di atas kertas bisa diakali, seperti kasus PT DI yang menyatakan diri sebagai asset penting negara plus prospek bisnis menggiurkan, tetap saja dianggap hakim sebagai bualan, jatuhlah vonis pailit PT DI. Belakangan pembatalan putusan pailit PT DI mulai menghiasi halaman media masa. Ini seibarat narasi ‘proposal adalah das sein dan fakta ialah das solen’.
Niat politik pemerintah pusat dulu banyak disudutkan, dianggap terlalu longgar memberi restu pemekaran daerah, itu sebab akan diubah total. Kini pemerintah memilih bersikap pelit memberi ijin daerah memekarkan diri, membelah diri, kecuali benar-benar sudah mapan punya penghasilan sendiri, dewasa, selayaknya bujang yang siap nikah.
Pemekaran Brebes bergeser menjadi second issue pembangunan. Lebih ngetren ide membangun ulang gedung paripurna DPRD yang terbakar sehari sesudah KPUD mengumumkan nomor urut calon.
De facto, infrastruktur Brebes Selatan masih jauh dari memadai untuk memnuhi syarat mandiri, hanya ada satu ruas jalan utama. Daerah selatan hanya terdikotomi antara daerah sebelah kanan jalan protokol Jakarta-Purwokerto, dan sebelah kiri. Selebihnya hanya jalan kecil seukuran badan bus menuju desa-desa. Jumlah fasilitas ekonomi dan keuangan masih dihitung jari, dan relatif kecil untuk mengimbangi laju perputaran uang. Pendek kata sarana pelayanan publik kurang.
Kekurangan ini memicu hasrat ingin memisahkan diri. Satu-satuya potensi melimpah adalah jumlah politisi dari daerah pemilihan wilayah Brebes Selatan di dewan cukup besar.
Jika kekuatan ini menjadi koalisi lintas partai dalam dewan, maka mampu menentukan porsi anggaran berimbang antara selatan-utara. Termasuk mensuport kelahiran proposal ‘rakyat’ sebagaimana di minta PP No 13/2006 masuk ke pusat perencanaan belanja, agar jumlah proyek-proyek kecil di desa bisa merata, jumlah puskesmas, sarana pelayanan publik tidak terlampau memecah jarak.
Urusan pembangunan tergantung political will, jika anggota dewan-politisi bertanggungrenteng, sepakat memetakan push konsentrasi pembangunan Brebes tahun tertentu di wilayah selatan, dan tahun berikutnya untuk utara, barangkali tidak pelru moratorium lewat pilkada. Moratorium muncul dari pemerataan pembangunan utara-selatan, antar daerah, terpencil tidak terpencil. Pemerataan pembangunan tidak bisa menjadi katalisator energi politik kekuasaan.
Berkaca dari Brebes, sangat tepat memperketat pembelahan wilayah, demi mereduksir kepentingan berkuasa, kepentingan monopoli, kepentingan penguasaan asset, dan hak pengelolaan dana alokasi umum. Kepentingan inilah yang dieskalasikan dalam ide pembelahan wilayah. Kalau rakyat sih tahunya, bagaimana caranya ngurus KTP cepat, mau berobat dekat, beras raskin dapat, jalanan lebar, angkutan pedesaan siang malam tersebar, sekolah jembar (luas). Tidak ngerti hal itu terwujud dengan cara pemekaran, pembelahan wilayah, pengalokasian anggaran atau apapun caranya, mereka buta cara.
Pelajaran dari Shinzo Abe, dan PM Rusia, berani menyerahkan jabatan di saat partai penyokongnya runtuh, kalah populer dalam jualan politik. Tidak perlu mempersiapkan pembentukan Jepang Selatan, Rusia baru. Yang menentukan kemenangan demokrasi ya seperti orang jualan jamu, siapa paling gencar menggelar iklan, membangun image positif, ia akan memenangkan pertarungan.
Sikap ini berlawanan dengan adat politik tanah air, kalau di sini, walaupun partai sudah bangkrut, cukup mendekati presiden, dukung pemerintah, pasti kebagian kursi kabinet minimal duta besar. Berikutnya tinggal me-lukir nama partai, lalu bersiap ikut pemilu sambil tebar pesona, mejeng di media, main film atau membintangi iklan sambil dagelan di ketoprak humor.
Hudjolly,
Peneliti pada Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Bakti Negara (STAIBN), Tegal
Oleh : Hudjolly
Perubahan estafet kekuasaan lewat pilkada langsung ternyata punya implikasi berbeda. Pilkada langsung bisa menganulir sementara, seolah memberi moratorium pada proses pemekaran (tepatnya pembelahan) daerah. Contoh nyata di Brebes, kabupaten terluas ke-2 di Jateng sesudah cilacap. Pilkada Brebes sudah memasuki tahap serius, point of no return, kemarin tanggal 4 Noveber, pungutan suara berlangsung.
Ada empat nama pasangan yang akan ditorehkan dalam sejarah Brebes, sebagai kandidat-kandidat pertama peserta pilkada langsung. Tetapi endemi penyakit kepempimpinan nasional juga terjadi di kabupaten penghasil bawang merah ini. Endemi itu adalah penyakit kelangkaan wajah baru dalam bursa kepemimpinan. Calon yang berani maju ya wajah itu-itu juga. Dari periode silam, selama kurun waktu lima tahun nyaris tidak ada ketokohan yang menyeruak, paling baju baru, stock lama.
Dua pasang berasal dari pejabat incumbent, bupati, dan wakil bupati yang masih menjabat. Seperti lazimnya logika kekuasaan, yang sudah menjabat, ingin menjabat lagi, yang hanya kebagian kursi wakil, tentu ingin naik tahta. Bak sang wapres JK yang naga-naganya berusaha naik mimbar, kini tengah berusaha membangun citra publik, mumpung urusan image sudah tidak di-I don’t care-lagi oleh SBY.
Kandidat berikutnya tokoh partai yang tidak seranta, ogah diam melihat peluang empuk jadi kepala daerah. Padahal saat itu jabatan empuk, sebagai ketua dewan, sebagai sekretaris daerah sudah tergenggam. Mungkin tertular epidemi Akbar Tanjung yang sumringah bersaing dalam bursa konvensi, dulu. Ke empat pasangan berjanji akan membawa perubahan lebih baik bagi rakyat Brebes di masa mendatang. Itu isi kampanye mereka.
Moratorium
Tetapi bagi semua politisi Brebes, ada sebuah agenda politik terlupakan. Pemekaran (pembelahan) Brebes menjadi dua kabupaten, Brebes Selatan yang berpusat di kecamatan Bumiayu, dan Brebes Utara. Brebes Selatan bakal terdiri-setidaknya-enam kecamatan besar, terletak 60 kilometer lebih dari Brebes Utara, pusat pemerintahan sekarang. Agenda pemekaran sempat menyeruak bulat hingga berwujud deklarasi pemekaran Brebes Selatan. Panitia sudah terbentuk, berbagai surat sudah dilayangkan untuk mendorong terwujudnya Brebes Selatan, termasuk mensponsori pencetakan’rekor’ jalan kaki menemui presiden sambil membawa proposal pemekaran. Ide pemekaran maujud pasca pemilu 2002 silam, konon sih ide lama. Saat ikon politik Bumiayu, mantan ketua PC NU Brebes urung jadi orang nomor satu, cukup jadi wakil. Merebaklah ide pemekaran.
Kini semua itu tenggelam oleh gegap gempita pilkada Brebes. Belakangan sang ikon muncul jadi calon bupati, berharap meraup suara dari basis masa di Brebes Selatan. Dan satu tahun menjelang pilkada, terhentilah agenda pemekaran. Dari situ tercetus moratorium pemekaran lewat Pilkada(l).
Katalisator
Ada yang menarik dari moratorium ini. Pertama spekulasi pendapat bahwa ide pemekaran/pembelahan bertransformasi menjadi medan perantara, agar energi tetap mencapai tujuan, menuju kursi kepala daerah. Dengan membuka lahan baru, berarti menciptakan kekosongan kursi kepala daerah baru. Ini sebuah langkah gres untuk menebus kekalahan lama pada pemilu 2002 terlanjur tutup. Teori ini akan diuji pasca pilkada pada 4 November 2007, jika kemenangan ada pada incumbent, kemungkinan besar ide pemekaran akan bergeliat kembali.
Yang kedua, teori bahwa pilkada(l) memberikan efek baru berupa penurunan tensi politik dan perebutan kekuasaan. Dengan sistem demokrasi lama, ‘suara tuhan’ ditransmisikan pada wakil rakyat yang duduk di dewan. Anggota legislatif memegang peran akhir siapa pemimpin sebuah daerah. Di lain pihak, banyak suara rakyat tidak terepresentasi dalam keputusan lembaga legislatif. Kemenangan voting seorang politisi di ruang paripurna dewan tidak serta merta melambangkan legitimasi publik padanya.
Alih-alih memberikankarya terbaik buat rakyat, periode kepemimpinan daerah menjadi masa politik etis terhadap legislatif. Keadaan ini semakin mendelegitimasi kepemimpinan daerah.
Studi kasus Brebes, teori pertama ditandai dengan jargon pemekaran yang tinggal jadi legenda. Propaganda awal semasa penggalangan ide pemekeran berupa janji membangun kekuatan otonomi baru, mendekatkan layanan publik pada rakyat, agar mengurus akte kelahiran saja tidak perlu menembus 68 kilometer perjalanan, menghabiskan waktu dalam bus seharian, semua jargon mulai pupus.
Pelayanan Publik
Di sisi lain unpredictable increase terjadi, muncul mendagri baru, Mardiyanto yang manut menunaikan titah seniornya, Ma’ruf untuk meneruskan agenda penyempurnaan PP No 129/2007, tentang persyaratan pembentukan dan kriteria pemekaran, penghapusan, dan penggabungan daerah (Kompas 1/9). Ya, Brebes Selatan yang belum lahir terpaksa benar-benar urung lahir sama sekali, dan itu lebih baik daripada premature sekedar memenuhi keinginan bidan semata.
Mau tidak mau penyempurnaan PP akan berakibat pada perubahan segala macam persyaratan bagi daerah yang ingin terus mekar, membelah diri. Meski persyaratan diperketat, di Indonesia segalanya mungkin. Tapi tidak semudah itu, persyaratan di atas kertas bisa diakali, seperti kasus PT DI yang menyatakan diri sebagai asset penting negara plus prospek bisnis menggiurkan, tetap saja dianggap hakim sebagai bualan, jatuhlah vonis pailit PT DI. Belakangan pembatalan putusan pailit PT DI mulai menghiasi halaman media masa. Ini seibarat narasi ‘proposal adalah das sein dan fakta ialah das solen’.
Niat politik pemerintah pusat dulu banyak disudutkan, dianggap terlalu longgar memberi restu pemekaran daerah, itu sebab akan diubah total. Kini pemerintah memilih bersikap pelit memberi ijin daerah memekarkan diri, membelah diri, kecuali benar-benar sudah mapan punya penghasilan sendiri, dewasa, selayaknya bujang yang siap nikah.
Pemekaran Brebes bergeser menjadi second issue pembangunan. Lebih ngetren ide membangun ulang gedung paripurna DPRD yang terbakar sehari sesudah KPUD mengumumkan nomor urut calon.
De facto, infrastruktur Brebes Selatan masih jauh dari memadai untuk memnuhi syarat mandiri, hanya ada satu ruas jalan utama. Daerah selatan hanya terdikotomi antara daerah sebelah kanan jalan protokol Jakarta-Purwokerto, dan sebelah kiri. Selebihnya hanya jalan kecil seukuran badan bus menuju desa-desa. Jumlah fasilitas ekonomi dan keuangan masih dihitung jari, dan relatif kecil untuk mengimbangi laju perputaran uang. Pendek kata sarana pelayanan publik kurang.
Kekurangan ini memicu hasrat ingin memisahkan diri. Satu-satuya potensi melimpah adalah jumlah politisi dari daerah pemilihan wilayah Brebes Selatan di dewan cukup besar.
Jika kekuatan ini menjadi koalisi lintas partai dalam dewan, maka mampu menentukan porsi anggaran berimbang antara selatan-utara. Termasuk mensuport kelahiran proposal ‘rakyat’ sebagaimana di minta PP No 13/2006 masuk ke pusat perencanaan belanja, agar jumlah proyek-proyek kecil di desa bisa merata, jumlah puskesmas, sarana pelayanan publik tidak terlampau memecah jarak.
Urusan pembangunan tergantung political will, jika anggota dewan-politisi bertanggungrenteng, sepakat memetakan push konsentrasi pembangunan Brebes tahun tertentu di wilayah selatan, dan tahun berikutnya untuk utara, barangkali tidak pelru moratorium lewat pilkada. Moratorium muncul dari pemerataan pembangunan utara-selatan, antar daerah, terpencil tidak terpencil. Pemerataan pembangunan tidak bisa menjadi katalisator energi politik kekuasaan.
Berkaca dari Brebes, sangat tepat memperketat pembelahan wilayah, demi mereduksir kepentingan berkuasa, kepentingan monopoli, kepentingan penguasaan asset, dan hak pengelolaan dana alokasi umum. Kepentingan inilah yang dieskalasikan dalam ide pembelahan wilayah. Kalau rakyat sih tahunya, bagaimana caranya ngurus KTP cepat, mau berobat dekat, beras raskin dapat, jalanan lebar, angkutan pedesaan siang malam tersebar, sekolah jembar (luas). Tidak ngerti hal itu terwujud dengan cara pemekaran, pembelahan wilayah, pengalokasian anggaran atau apapun caranya, mereka buta cara.
Pelajaran dari Shinzo Abe, dan PM Rusia, berani menyerahkan jabatan di saat partai penyokongnya runtuh, kalah populer dalam jualan politik. Tidak perlu mempersiapkan pembentukan Jepang Selatan, Rusia baru. Yang menentukan kemenangan demokrasi ya seperti orang jualan jamu, siapa paling gencar menggelar iklan, membangun image positif, ia akan memenangkan pertarungan.
Sikap ini berlawanan dengan adat politik tanah air, kalau di sini, walaupun partai sudah bangkrut, cukup mendekati presiden, dukung pemerintah, pasti kebagian kursi kabinet minimal duta besar. Berikutnya tinggal me-lukir nama partai, lalu bersiap ikut pemilu sambil tebar pesona, mejeng di media, main film atau membintangi iklan sambil dagelan di ketoprak humor.
Hudjolly,
Peneliti pada Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Bakti Negara (STAIBN), Tegal
Minggu, 05 Agustus 2007
Resensi
Menapak Jejak Penciptaan
Oleh : Hudjolly
Judul Buku : The Divine Messege Of The DNA
Tuhan dalam Gen Kita
Penulis : Kazuo Murakami P.hd
Penerbit : Mizan Pustaka Utama, Maret 2007
Dimensi Buku : 200 Halaman (Hard Cover)
Kazuo Murakami adalah seorang ilmuwan yang berhasil memenangkan hadiah penghargaan dari Max Planck Research award di tahun 1990. Tidak hanya itu, 6 tahun kemudian ia menyabet Japan Academy Prize, keduanya untuk bidang yang sama genetika. Penelaahan gen menjadi sains baru yang perkembangannya menjadi banyak pembicaraan jurnal ilmiah populer. Namun apa yang berhasil dilacak dalam jejak gen, sebuah rantai protein dan sel sederhana yang menjadi awal mula kehidupan membuktikan fakta teori penciptaan, sekaligus meruntuhkan konsep evolusi.
Pun, di dalam gen jauh sebelum mahkluk manusia berujud, bentuk kondisi fisik kita sudah direncanakan, tentang tekanan darah, tentang detak jantung, tentang segala macam pernak-pernik jasad fisik, warna kulit, kualitas suara, bentuk rambut, sampai bentuk kuku di ujung jari manusia, sudah dicetak di sana. Ia menjadi blue print bagi pembangunan unit tubuh manusia. Itulah keajaiban gen. Lalu apa hubungan gen dengan DNA.
DNA (deoxyribonucleic Acid) terlindung dengan baiknya di dalam nukleus (inti sel) yang berada di pusat sel. Jika diingat bahwa sel-sel manusia–terhitung lebih dari 100 miliar–memiliki diameter rata-rata 10 mikron (satu mikron adalah 10-6 m.), kecil sekali bukan ? ia adalah awal dari semua informasi, jika satu potong informasi yang ada di dalam gen manusia dibaca setiap detik, tanpa henti, sepanjang waktu, akan dibutuhkan 100 tahun sebelum proses selesai. Jika kita bayangkan bahwa informasi di dalam DNA dijadikan bentuk buku, lalu buku-buku ini ditumpuk, maka tingginya akan mencapai 70 meter.
Molekul yang menakjubkan ini merupakan bukti nyata dari kesempurnaan dan sifat luar biasa dari seni penciptaan oleh Allah. Begitu luar biasanya sehingga suatu cabang sains khusus dibuat untuk mendalami rahasia molekul ini, yang masih banyak tersembunyi. Nama cabang sains ini adalah “Genetika”.
The Divine Messege banyak membedah tentang DNA, termasuk kode-kode rahasia yang ada di dalam gen. Dr Reona Ezaki peraih nobel sains dari Universitas Tsukuba, Jepang memberikan komentar kuat dan dukungan pada apa yang sedang dikerjakan oleh penulis buku ini. Demikian juga Dr Hisoteru Mistsuba profesor emeritus dari Universitas Kyoto turut memberikan aplaus yang tinggi pada hasil kontemplasi Dr Kazuo.
Apa yang dicapai oleh Dr Akzuo adalah mempertemukan sains dan kajian agama, sehingga Dalai Lama pun terkesima pada paparan yang diutarakan Dr Kazuo. Di Jepang sendiri 200.000 kopi buku ini habis terserap, ini menandakan respon teramat kuat dari kalangan terpelajar di sana. Di Indonesia, dimana banyak ditemukan ruang dialog agama dan sains, mungkin kehadiran paparan Dr Kazuo bisa meninjau ulang paham materialisme yang sudah kadung mengakar kuat di belantara pengetahuan dan institusi pendidikan tinggi kita.
Dan semakin kita berpikir positif, positive thingking maka kerja dari DNA kita juga semakin baik, memberikan banyak daya hidup. Lalu apa efeknya di masyarakat luas ? DNA, yang terbangun dari susunan sejumlah tertentu atom-atom yang tak berkesadaran, dan enzim-enzim, yang bekerja secara harmonis, mampu menyelesaikan banyak pekerjaan dan mengorganisir operasi yang rumit dan bermacam-macam di dalam sel secara sempurna dan lengkap. Berarti disana ada ‘kearifan’. Sementara ‘kearifan’ tidak berada di dalam molekul-molekul ini atau di dalam sel yang memuatnya, tetapi pada ‘Diri’ yang telah mencipta molekul-molekul ini, dengan memprogram mereka untuk berfungsi sedemikian.
Maka kenalilah diri anda sedalam mungkin, mulai dengan menaklukan kepentingan diri sendiri. Dengan demikian masyarakat nan ‘santun’ dapat terbentuk, kita adalah gen yang harsunya ‘tunduk’ pada satu perintah, berkelompok menjadi society. “Peran pikiran dalam membentuk lingkungan personal kita didemonstrasikan dengan amat meyakinkan, sangat menginspirasi dan memiliki dasar ilmiah yang kuat, karya ini menerangi masa sekarang yang penuh tantangan” Joyce W Hawkes P.hd, pakar biofisika. Semoga berguna -d
Oleh : Hudjolly
Judul Buku : The Divine Messege Of The DNA
Tuhan dalam Gen Kita
Penulis : Kazuo Murakami P.hd
Penerbit : Mizan Pustaka Utama, Maret 2007
Dimensi Buku : 200 Halaman (Hard Cover)
Kazuo Murakami adalah seorang ilmuwan yang berhasil memenangkan hadiah penghargaan dari Max Planck Research award di tahun 1990. Tidak hanya itu, 6 tahun kemudian ia menyabet Japan Academy Prize, keduanya untuk bidang yang sama genetika. Penelaahan gen menjadi sains baru yang perkembangannya menjadi banyak pembicaraan jurnal ilmiah populer. Namun apa yang berhasil dilacak dalam jejak gen, sebuah rantai protein dan sel sederhana yang menjadi awal mula kehidupan membuktikan fakta teori penciptaan, sekaligus meruntuhkan konsep evolusi.
Pun, di dalam gen jauh sebelum mahkluk manusia berujud, bentuk kondisi fisik kita sudah direncanakan, tentang tekanan darah, tentang detak jantung, tentang segala macam pernak-pernik jasad fisik, warna kulit, kualitas suara, bentuk rambut, sampai bentuk kuku di ujung jari manusia, sudah dicetak di sana. Ia menjadi blue print bagi pembangunan unit tubuh manusia. Itulah keajaiban gen. Lalu apa hubungan gen dengan DNA.
DNA (deoxyribonucleic Acid) terlindung dengan baiknya di dalam nukleus (inti sel) yang berada di pusat sel. Jika diingat bahwa sel-sel manusia–terhitung lebih dari 100 miliar–memiliki diameter rata-rata 10 mikron (satu mikron adalah 10-6 m.), kecil sekali bukan ? ia adalah awal dari semua informasi, jika satu potong informasi yang ada di dalam gen manusia dibaca setiap detik, tanpa henti, sepanjang waktu, akan dibutuhkan 100 tahun sebelum proses selesai. Jika kita bayangkan bahwa informasi di dalam DNA dijadikan bentuk buku, lalu buku-buku ini ditumpuk, maka tingginya akan mencapai 70 meter.
Molekul yang menakjubkan ini merupakan bukti nyata dari kesempurnaan dan sifat luar biasa dari seni penciptaan oleh Allah. Begitu luar biasanya sehingga suatu cabang sains khusus dibuat untuk mendalami rahasia molekul ini, yang masih banyak tersembunyi. Nama cabang sains ini adalah “Genetika”.
The Divine Messege banyak membedah tentang DNA, termasuk kode-kode rahasia yang ada di dalam gen. Dr Reona Ezaki peraih nobel sains dari Universitas Tsukuba, Jepang memberikan komentar kuat dan dukungan pada apa yang sedang dikerjakan oleh penulis buku ini. Demikian juga Dr Hisoteru Mistsuba profesor emeritus dari Universitas Kyoto turut memberikan aplaus yang tinggi pada hasil kontemplasi Dr Kazuo.
Apa yang dicapai oleh Dr Akzuo adalah mempertemukan sains dan kajian agama, sehingga Dalai Lama pun terkesima pada paparan yang diutarakan Dr Kazuo. Di Jepang sendiri 200.000 kopi buku ini habis terserap, ini menandakan respon teramat kuat dari kalangan terpelajar di sana. Di Indonesia, dimana banyak ditemukan ruang dialog agama dan sains, mungkin kehadiran paparan Dr Kazuo bisa meninjau ulang paham materialisme yang sudah kadung mengakar kuat di belantara pengetahuan dan institusi pendidikan tinggi kita.
Dan semakin kita berpikir positif, positive thingking maka kerja dari DNA kita juga semakin baik, memberikan banyak daya hidup. Lalu apa efeknya di masyarakat luas ? DNA, yang terbangun dari susunan sejumlah tertentu atom-atom yang tak berkesadaran, dan enzim-enzim, yang bekerja secara harmonis, mampu menyelesaikan banyak pekerjaan dan mengorganisir operasi yang rumit dan bermacam-macam di dalam sel secara sempurna dan lengkap. Berarti disana ada ‘kearifan’. Sementara ‘kearifan’ tidak berada di dalam molekul-molekul ini atau di dalam sel yang memuatnya, tetapi pada ‘Diri’ yang telah mencipta molekul-molekul ini, dengan memprogram mereka untuk berfungsi sedemikian.
Maka kenalilah diri anda sedalam mungkin, mulai dengan menaklukan kepentingan diri sendiri. Dengan demikian masyarakat nan ‘santun’ dapat terbentuk, kita adalah gen yang harsunya ‘tunduk’ pada satu perintah, berkelompok menjadi society. “Peran pikiran dalam membentuk lingkungan personal kita didemonstrasikan dengan amat meyakinkan, sangat menginspirasi dan memiliki dasar ilmiah yang kuat, karya ini menerangi masa sekarang yang penuh tantangan” Joyce W Hawkes P.hd, pakar biofisika. Semoga berguna -d
Kamis, 19 Juli 2007
The Outher Limit, Batas Terluar
Novum Organum
Oleh : Hudjolly
Seorang bertanya bagaimana anda membuktikan bahwa yang spiritual itu eksis, bahwa pengalaman non inderawi merupakan sesuatu yang riil, semua itu hanya rabaan saja. Maka akan saya jawab dengan meminjam analogi Muhyidin Ibnu Arabi saat ditanya “Bagaimana anda membuktikan tuhan ada“. Jawabnya malah berupa pertanyaan, “Bagaimana anda bisa membuktikan bahwa madu itu manis rasanya ?” Sebab semua orang tahu dan sepakat bahwa madu manis lewat jalan mencicipi madu. Untuk menjawab bagaimana pengalaman spiritual itu eksis ya lakukan sebagaimana mencicipi madu. Kalau hanya menceritakan bahwa madu manis, bahwa rasa buah anggur yang ranum itu segar pada orang yang tidak tahu madu, tidak pernah melihat buah anggur ranum, tidak pernah mencicipi madu, maka bagaimana ia akan faham dengan apa yang anda ceritakan.
Seuntai dialog tersebut penting, mengingat apa yang terjadi pada manusia modern acapkali meminta bukti akan bentuk yang eksisten di luar eksistensi manusia. Evident menjadi barang yang demikian penting pada ranah pengetahuan modern, sehingga tiga aspek kehidupan yakni fisik, metafisik dan Ekstrafisis menjadi barang aneh—sebelum kita melangkah pada pembahasan non fisik—padahal semua percobaan laboratorium sama dengan ‘merasakan’ secara empirik apa yang diteorikan orang tentang suatu hal, ternyata kejadiannya persis sebagaimana orang tersebut berkata. Jika orang mengatakan ‘es dipanaskan mencair’, ia akan mengalami ‘es mencair saat dipanaskan’. Jadi jika disuruh membuktikan isi paparan di bawah ini, saya jawab,”cicipi saja!”
Hening dan Hampa
Meminjam dialektika modern, sebuah penelitan kedokteran menyatakan bahwa kapling otak bawah sadar lebih banyak dari pada kapling otak mengendalikan kemampuan sadar manusia, 1/7 persen sadar dan 6/7 bawah sadar. Dengan porsi kemampuan bawah sadar yang lebih besar, seberapa besar potensi dan hal yang bisa dikerjakan dengan kemampuan bawah sadar itu. Bayangkan, dengan 1/7 bagian saja, manusia bisa mencapai tingkat kemajuan seperti sekarang ini. Tapi kemampuan ilmu pengetahuan (science) itu belum bisa memerintahkan jantung agar berhenti berdetak, selain dengan menggunakan stimulasi kimia yang merangsang organ motorik jantung terhambat bekerja. Kinerja jantung hanya butiran pasir bagi kemampuan bawah sadar.
Lewat pintu ‘bawah sadar’, manusia mengenali jati dirinya di dalam dimensi putih durah al baidha. Bawah sadar hanya pintu masuk untuk menggambarkan keadaan tubuh dan pikiran manusia saat sedang berada posisi khalwat secara intens. Menjauhkan diri dari keramaian dunia meski berada di tengah pasar, dalam hiruk pikuk perdagagan, tetapi kesunyian pikiran dan jiwa masih terjaga. Setiap orang jika tidak sedang berkomunikasi dengan orang lain, maka ia ‘seolah’ bercakap dengan diri sendiri, itu menggambarakan bahwa keadaan diri kita tidak kosong dari keadaan tertentu. Dan kejadian bercakap itu bisa juga dalam posisi berimajinasi, berkhayal atau merenung, dimanakah ke-aku-an itu bersemayam. Ia seperti orang lain, outsider tapi tahu benar detail diri kita, sehingga tidak bisa dibohongi, dan acapkali mengajak melakukan suatu perbuatan.
Lalu apakah ia baik atau buruk ? Nah disitulah keterbatasan, berhenti dulu untuk melakukan penilaian dengan dikotomi sederhana. Segalanya dinilai hitam dan putih. Sebaiknya kita memasukan itu dalam stage an Nafs, yang dengannya kita bisa merasa tidak sepi. Sekaligus ia menjadi benteng pertama untuk memasuki keheningan jiwa. Sebelum memasuki durah al baidha, yang eksis dari perwujudan pancaran watak an nafs dengan ‘nafsu’ wahidah yang menggambarkan keinginan kuat untuk mulia dengan tuhan berbuat baik yang kesemuanya itu tidak lain dari personifikasi wujud aku dalam stratum halus. Ya ketika keinginan menjadi mulia adalah kebutuhan dan tujuan maka disitulah keberadaan id aku.
Dalam fase sadar, melakukan olah gerak dengan pengendalian nafas, jalan darah hingga memasuki tahap bersatunya diri sadar terhadap apa yang difokuskan, itu tahapan awal memasuki dunia supradimensi. Bahwa keterbatasan centimeter, gram dan second tidak lagi mengikat struktur kesadaran kita. Alam mulai menunjukan keajaibannya sendiri. Dalam bahasa sederhana alam fisik kasat mata, sudah terlampaui, masuk ke dimensi lain, kesadaran lain. Tapi pada hakekatnya apa yang saya bahasakan dengan kata ‘Dimensi’ bukanlah keadaan alam non fisik yang ada di luar alam fisik, semua dimensi berada dalam diri kita, jadi kita tidak kemana-mana, kecuali keadaan tertentu yang membuat kita melakukan perjalanan nondimensi, yaitu alam nirfisik. Alam riil yag keadaanya bukan diperuntukan untuk jisim dengan struktur padat seperti jisim pada tubuh manusia dan sekitarnya.
Dalam perjalanan ini yang perlu dicamkan adalah keniscayaan, hukum kausal umum univers itu tetap ada, hukum alam masih ada, hanya sedikit perbedaan. Jika dalam alam fisik pusat gravitasinya adalah bumi, maka di alam non fisik pusat gravitasinya adalah keinginan diri sendiri atau hasrat atau nafsu atau ego—kita hindarkan dulu dan tidak mengupas perbedaan halus mengenai arti keinginan, hasrat, ego dan nafsu, itu pokok pembahasan berbeda—maka setiap kita memiliki keinginan dalam alam non fisik akan timbul perpektif ‘nyata’ dalam alam tersebut. Keadaan tersebut merupakan spektrum yang menjadi choice kemana kita akan melangkah. Keinginan sebagai pusat gravitasi menjadi daya tarik dan sekaligus menjadi pembeda pengalaman kognitif-spiritual pada tiap orang. Jangan heran jika menemui sosok penganut suatu disiplin tertentu akan berbeda dengan pelaku disiplin lain. Disiplin menjadi kecenderungan yang metodologis oleh formulator disiplin, baik formula disiplin tersebut berasal dari wawansabda Suprabeing Sang Hyang Taya Yang Tak Terbatas, ataupun sebagai hasil kontemplasi formulator sendiri, disiplin berarti kecenderungan tersistem untuk mengendalikan keinginan, hasrat dan nafsu manusia semenjak masih dalam alam kasat mata, alam cgs. Keinginan kuat yang ada dalam diri manusia sebagai barier utama dalam menuju perjalanan meta, dan sekaligus menjadi daya medan gravitas terbesar setelah berhasil masuk ke nirfisik. Sedemikian besar pengaruh keinginan sehingga menjadi ‘musuh’ utama bagi semua keyakinan dan agama. Dalam ‘disiplin’ Islam, penaklukan hawa nasfu menjadi ‘medan juang’ terbesar sepanjang kehidupan manusia. ‘Disiplin’ yang mengatur tata laku manusia (mujahadah), secara menyeluruh, dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali, disiplin 24 jam tanpa jeda, disiplin Islam berarti taat 24 jam (kaffah). Siapa mampu menaklukan diri sendiri niscaya alam nirfisik tergelar ‘dihadapannya’, perjalanan meta bukan berarti perjalanan magis, tapi iktibar untuk menyebut proses penemuan jati diri manusia tertinggi, aspek inti religius, menemukan arti bagaimana manusia hidup dan untuk apa ia hidup, bermasyarakat lengkap dengan kemampuan otak dan nalarnya. Adakah Sang Pembuat manusia menjadikan manusia tanpa tujuan ? Dan tujuan tersebut bukan menjadi milik, terpengaruh-mempengaruhi dengan Sang Pembuat, pencapaian tujuan itu menjadi kebutuhan manusia an sich.
Jika Sang Pembuat masih butuh dengan sikap dan perilaku manusia itu sendiri, sebagaimana ketergantungan dan butuhnya pembuat meja dengan meja itu sendiri, berarti Kekuatan itu menjadi tidak melebihi dari produk buatannya, ini menjadi mustahil bagi logika, bagaimana mungkin meja berarti lebih unggul dari pembuat meja. Perjalanan meta hanya proses yang adimanusiawi bagi kelangsungan hidup manusia. Siapapun ia, entah seorang atheis sekalipun, kehausan, hasrat mencari Sumber Kebenaran masih ada dan itu dibuktikan dengan munculnya telaah filsafatnya, pemikirannya berusaha membahas ‘asal’ segala sesuatu, berusaha menggapai kesempurnaan sesuai imajinasinya, keingianannya, mewujudkan metode kesempurnaan bentuk manusia, baik berupa disiplin sosialisme, disiplin liberal, disiplin Marxis, Freudian, Weberian, Cartesian, atau Newtonian. Masalahnya sampaikah logikanya pada penyentuhan keadaan Absolut, Yang Maha Mutlak, yang menjadi penetap adanya hukum alam ”baik dan buruk’ Bagaimana Cartesian tahu bahwa baik adalah ‘baik’, serangkaian perilaku (behavior) disebut ‘baik’ apa yang menjadi term ‘baik’ dan bagaimana ia kenal makna ‘baik’, apapun indikator baik baginya. Bisa jadi ‘baik’ bagi Nazi berarti keunggulan rasnya, bagaimana ‘baik’ bagi Nazi itu muncul.
Kita persingkat pembahasannya, jadi perjalanan nirfisik bukanlah fase untuk mencari kekuatan luar biasa bagi dirinya, tapi untuk tahu hakekat manusia menjadi manusia, bagi kehidupannya sendiri. Begitu pemahaman ini muncul, satu langkah maju sudah tercapai, menjadi titik awal untuk masuk fase selanjutnya. ‘Fase’ itu sendiri hanya sekumpulan kebijakan Absolut, Hukum Univers yang berarti etape bagi ulat untuk menjadi kupu, etape bagi cairan menjadi jasad manusia, etape dari beragam unsur pembentuk tanah menjadi cairan, fase berarti kun. Kesadaran ini mengangkat potensi an nafs dari dimensi awal manusia durah al ashfar dimana pusat gravitasi dimensi ini adalah musawwilah . Pembebasan diri manusia untuk melepas atribut gravitasi musawwilah, mulai memudarkan keinginan berbuat jahat pada person lain, melepaskan keinginan menjajah, menguasai manusia lain, dengan eksploitasi yang tidak memperdulikan apakah orang lain terluka, mati. Behavior manusia di gravitasi ini secara biologis mendekati watak animal, animal instinct.
Melepas animal instinct menjadi langkah awal untuk masuk dalam tahap berikutnya, durah al amnar yang pusat gravitasinya ada pada amarah. Dimensi ini di tandai dengan pendaran warna merah, berikutnya dimensi pendaran warna hijau. Pusat gravitasinya adalah lawwammah . Ini fase paling membingungkan, antara menurut akal pengetahuan atau menurut pada intuisi, Di sini pergumulan terjadi. Fase lainnya adalah durah al azraq dengan pusat gravitasi nafs mulhammah, lalu pendaran warna biru yang melampuai kesadaran biasa, melepas semua keinginan dan pengetahuan yang terdiri dari postulat-postulat sederhana. Ya pengetahuan menjadi benteng kuat bagi ego untuk mempertahankan status aku manusia. Misalnya postulat, batu – keras, postulat batu manusia ‘tahu’ wataknya karena pernah melihat, meraba, keras merupakan postulat untuk menyatakan suatu sifat. Pengetahuan batu keras merupakan sekumpulan postulat, lalu postulat dikembangkan lagi menjadi sebongkah batu mutiara -berharga, di komplekskan lagi postulatnya menjadi segunung mutiara -berharga, berharga merupakan postulat baru yang berasal dari postulat lain : ‘barang langka’ dan banyak orang mencari, banyak orang berminat, suka pada mutiara, dan berani membayar demi memilikinya, dan terus berkembang rangkaian postulat itu. Dan kumpulan postulat ini yang menjadi dasar pijakan untuk menyatakan serangkain rumus, teori bagi pengetahuan yang sudah didispilinkan menjadi ilmu. Apakah di dimensi nirfisik itu kumpulan postulat bisa dipakai, ya pengetahuan hanya serangkaian postulat saja, yang kita yakini karena kita tahu dan merasakannya, persis seperti analogi madu dan buah anggur. Tidak mutlak batu keras dan mutiara berharga, kondisi itu menyesuaikan postulat dan kondisi di sana. Mutiara berharga karena sedikit dan banyak peminat, tapi kalau mutiara berjumlah seperti pasir, tergelatk di semua sudut ruang, apakah berharga ? nilai pengetahuan menjadi in absolut bukan ? nah sampai dimana person memposisikan diri melepas kumpulan postulat dalam ranah fisik untuk diserahkan pada postulat lain, hukum yang berlaku disana. Lalu sulitkah? Ya bagi sebagai al murid, pejalan pemula sangat sulit sebab masih di kuasai kalimat serba ‘tidak mungkin’ dan mustahil. Berkuasanya postulat ‘mustahil’ dan ‘tidak mungkin’ masih ada dalam tatar halus ke-akuan- diri bahwa saya benar dan itu salah.
Semakin menembus masuk ke dalam dari menaklukan an nafs tantangan nafs juga semakin halus, tetapi sangat kuat. Seperti terjebak pada spektrum ingin ‘digdaya’ atau ‘waskita’, watak ini tidak lain adalah keinginan dari maujud aku dalam kondisi tertentu, masih tidak beranjak dari sifat manusia an sich. Aku menjadi tidak aku merupakan proses untuk masuk, meleburkan diri pada Kehendak (muraqabah) yang membawa pada dimensi putih hingga dimensi tiada warna, hanya terang saja tidak ada sesuatu apapun selain personifikasi dirinya yang wujudnya sama persis dialah ruh al idhofi, si guru sejati .Dalam dimensi terang itulah hakikat keakuan lenyap dalam pasrah (aslama) atas segal keadaan dan paham akan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Al ilma’menyeruak dalam rulang kesadaran menjadi panduan dalam perjalanan fisiknya kelak setelah sadar kembali. Dalam al ilma’ lewat al ilma’ pemahaman hakekat terkomunikasikan, masuklah pada dimensi tak terhingga yang masih membentang segala kemungkinan dan pengalaman.
Tak Terhingga
Apakah akan berhenti setelah menemukan kesunyian dan tenggelam dalam hening hidup? Tidak, semua proses hukum alam kembali berjalan apa adanya, perbedaanya mereka para penjelajah ini tahu makna kejadian yang menimpa dirinya, peristiwa lingkungannya, karena ketersingkapan sebagai keniscayaan itu sendiri. Tapi itu bukan lagi kehendaknya. Dalam tahapan ini seorang salik sudah tidak memiliki kehendak diri, tidak ada lagi keinginan, mati dalam hidup, berjalan-diperjalankan dalam keinginan Al Khalik, inilah arti manunggaling kawula kelawan gusti. Tidak ada lagi aku yang bersumber dari keinginan diri lawwammah, terbebas seperti kupu yang lepas dari fase kepompong. Dan pengambilan kata, nama bagi dimensi itu merupakan pinjaman kata, bahasa untuk komunikasi verbal antar manusia yang terbatas ini agar imaji kita mampu mennagkap apa yang deskripsikan, cicipilah laksana madu. Dan permakain kata untuk menggambarkan ‘keadaan’ demikian masih banyak, tergantung dari mana ia memulainya, tergantung dari perbendaharaan postulat macam apa yang dimilikinya, seperti menyebut air, toya, banyu, water dan seterusnya.
Ruh Al Idhofi berarti kembaran atau saudara yang darinya pemahaman sadar, kumpulan postulat terserap dalam akal dan menjadi terbenarkan, tapi bagi yang insan yang ‘tidak bangun’ tidak melakukan ‘fase pertemuan’ ia tidak berada dalam ‘posisi’ wawansabda dan tahu. Maka benarkah apa yang meyeruak dalam relung hati manusia, saat sendirian, saat sedang tidak berkomunikasi dengan orang lain, saat sedang berfikir adalah ruh al idhofi, yang melaluinya Adam Makrifat terpersonifikasi.
Tiada lagi Subsisten dan Eksisten, menjadi satu dalam hal (suatu predikat keadaan). Tiada sebab melainkan satu. Meski emanasinya beragam seibarat telapak tangan yang satu berwarna gelap dan satunya berwarna putih. Dari sisi gelap ini terpancar dan diakui keMutlaqkanNya oleh pemilik jisim yang lebih halus dari jisim fisik manusia, yang biasanya ia bergerak dalam disiplin tu dan to. Ya, bahwa makhluk penghuni bumi bukan manusia saja. Ia ada jauh sebelum kehidupan manusia ada, tapi tidak sedikit di antara mereka cenderung pada sisi lainnya. Jisim halus tidak tersentuh oleh indera, karena lebih halus. Jika kehalusan itu bisa dilampui terbentanglah kasunyatan mahkluk purwakala negeri. Keberadaan milyaran sel dalam fisik manusia saja masih terasa asing dan tidak dirasa keberadaanya.
Dunai jisim halus lebih sering dikatakan sebagai dunia gaib, padahal yang gaib adalah segala sesuatu yang tidak bisa dicerap lewat indriawi manusia. Hanya dirasakan keberadaanya ketika sudah diposisikan pada sebuah obyek, sebagaimana ‘ruh’, ‘daya hidup’ tidak berasa keberadaanya, hanya terlihat pada sebuah obyek hewan (sekumpulan marteri fisik) yang hidup, pada tumbuhan yang memanjang setiap hari (tidak pada tumbuhan mati) energi listrik pada perangkat lisrik, meski hanya seutas tambaga, dan seterusnya. Kalimat ini bukan pembenaran lewat ilmu science, tapi hanya meminjam kata untuk menggambarkan apa yang dimaksudkan oleh orang lain, kecuali seseorang mampu berkomunikasi dalam al ilma’ yang tidak menggunakan bahasa verbal linguistik.
Makna benar bukan lagi klaim mereka yang ada di posisi warna putihnya tangan, dalam sisi gelapnya tangan ada adagium yang memberikan pengenalan untuk menghantar mahkluk untuk mengenal Sang Absolut, semisal paham kapitayaan yang dibawa oleh Sang Hyang Hasmara, Sang Hyang Badanantra hingga moyangnya Dang Hyang Semar. Dan mereka mahkluk yang mengenal Sang Absolut lewat sisi putihnya tangan sebagaimana mereka yang ada dalam theosofi. Ingat, ada diktum dalam sebuah ajaran kebenaran, bahwa ‘Setan’ juga tahu bahwa ia hanya wajib tunduk pada Tuhan, saking tunduknya kaum ini disuruh bersujud pada manusia saja enggan. Hanya Dia yang tahu kebenaran Sejati.
Theosofi
Theosofi merupakan paham kebenaran yang memandang persatuan umat manusia tanpa gender, ras, sekat agama dan keyakinan ia membawa paham persaudaraan universal. Tetapi tidak bagi pemahaman theosphia yang memberikan maka penalaran atas theologi. Maka tidak semua penalran logika berarti theosofi, sebab ia harus berbasisi pada ketuhanan Wujud Absolut, Al Huwa tanpa dasar ini berari pemikiran menelaah segal aspek metafisis berkecenderungan sebagai humanisme sekuler. Memesahkan posisi campur tangan Pencipta pada ciptaannya, dan itu mustahil sebab tidak mungkin sel, atau benda mati melahirkan benda hidup, sel hidup.
Maka setiap person, orang yang melakukan penelaahan, berpikir tentang ciptaan dan merenungi ciptaan berarti ia berpikir teologis, karena hanya lewat pendekatan pada makhlukk, ciptaan baru bisa menangkap mengakui jejak ke agungan Pencipta. Di setiap penciptaan dalam semua bentuk mahkluk, mulai dari sel sederhana hingga mahkluk hidup dan mahkluk non materi terkandung bukti Kuasa Tuhan. Inilah novum organum yang kelak semestinya bisa mendasari pemikiran pengetahun kontemporer, tidak melepaskan zat dari Kuasa Tuhan
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Aali 'Imraan, 3:18)
Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yangtelah Engkau ajarkan kepada kami;sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah, 2: 32)
Oleh : Hudjolly
Seorang bertanya bagaimana anda membuktikan bahwa yang spiritual itu eksis, bahwa pengalaman non inderawi merupakan sesuatu yang riil, semua itu hanya rabaan saja. Maka akan saya jawab dengan meminjam analogi Muhyidin Ibnu Arabi saat ditanya “Bagaimana anda membuktikan tuhan ada“. Jawabnya malah berupa pertanyaan, “Bagaimana anda bisa membuktikan bahwa madu itu manis rasanya ?” Sebab semua orang tahu dan sepakat bahwa madu manis lewat jalan mencicipi madu. Untuk menjawab bagaimana pengalaman spiritual itu eksis ya lakukan sebagaimana mencicipi madu. Kalau hanya menceritakan bahwa madu manis, bahwa rasa buah anggur yang ranum itu segar pada orang yang tidak tahu madu, tidak pernah melihat buah anggur ranum, tidak pernah mencicipi madu, maka bagaimana ia akan faham dengan apa yang anda ceritakan.
Seuntai dialog tersebut penting, mengingat apa yang terjadi pada manusia modern acapkali meminta bukti akan bentuk yang eksisten di luar eksistensi manusia. Evident menjadi barang yang demikian penting pada ranah pengetahuan modern, sehingga tiga aspek kehidupan yakni fisik, metafisik dan Ekstrafisis menjadi barang aneh—sebelum kita melangkah pada pembahasan non fisik—padahal semua percobaan laboratorium sama dengan ‘merasakan’ secara empirik apa yang diteorikan orang tentang suatu hal, ternyata kejadiannya persis sebagaimana orang tersebut berkata. Jika orang mengatakan ‘es dipanaskan mencair’, ia akan mengalami ‘es mencair saat dipanaskan’. Jadi jika disuruh membuktikan isi paparan di bawah ini, saya jawab,”cicipi saja!”
Hening dan Hampa
Meminjam dialektika modern, sebuah penelitan kedokteran menyatakan bahwa kapling otak bawah sadar lebih banyak dari pada kapling otak mengendalikan kemampuan sadar manusia, 1/7 persen sadar dan 6/7 bawah sadar. Dengan porsi kemampuan bawah sadar yang lebih besar, seberapa besar potensi dan hal yang bisa dikerjakan dengan kemampuan bawah sadar itu. Bayangkan, dengan 1/7 bagian saja, manusia bisa mencapai tingkat kemajuan seperti sekarang ini. Tapi kemampuan ilmu pengetahuan (science) itu belum bisa memerintahkan jantung agar berhenti berdetak, selain dengan menggunakan stimulasi kimia yang merangsang organ motorik jantung terhambat bekerja. Kinerja jantung hanya butiran pasir bagi kemampuan bawah sadar.
Lewat pintu ‘bawah sadar’, manusia mengenali jati dirinya di dalam dimensi putih durah al baidha. Bawah sadar hanya pintu masuk untuk menggambarkan keadaan tubuh dan pikiran manusia saat sedang berada posisi khalwat secara intens. Menjauhkan diri dari keramaian dunia meski berada di tengah pasar, dalam hiruk pikuk perdagagan, tetapi kesunyian pikiran dan jiwa masih terjaga. Setiap orang jika tidak sedang berkomunikasi dengan orang lain, maka ia ‘seolah’ bercakap dengan diri sendiri, itu menggambarakan bahwa keadaan diri kita tidak kosong dari keadaan tertentu. Dan kejadian bercakap itu bisa juga dalam posisi berimajinasi, berkhayal atau merenung, dimanakah ke-aku-an itu bersemayam. Ia seperti orang lain, outsider tapi tahu benar detail diri kita, sehingga tidak bisa dibohongi, dan acapkali mengajak melakukan suatu perbuatan.
Lalu apakah ia baik atau buruk ? Nah disitulah keterbatasan, berhenti dulu untuk melakukan penilaian dengan dikotomi sederhana. Segalanya dinilai hitam dan putih. Sebaiknya kita memasukan itu dalam stage an Nafs, yang dengannya kita bisa merasa tidak sepi. Sekaligus ia menjadi benteng pertama untuk memasuki keheningan jiwa. Sebelum memasuki durah al baidha, yang eksis dari perwujudan pancaran watak an nafs dengan ‘nafsu’ wahidah yang menggambarkan keinginan kuat untuk mulia dengan tuhan berbuat baik yang kesemuanya itu tidak lain dari personifikasi wujud aku dalam stratum halus. Ya ketika keinginan menjadi mulia adalah kebutuhan dan tujuan maka disitulah keberadaan id aku.
Dalam fase sadar, melakukan olah gerak dengan pengendalian nafas, jalan darah hingga memasuki tahap bersatunya diri sadar terhadap apa yang difokuskan, itu tahapan awal memasuki dunia supradimensi. Bahwa keterbatasan centimeter, gram dan second tidak lagi mengikat struktur kesadaran kita. Alam mulai menunjukan keajaibannya sendiri. Dalam bahasa sederhana alam fisik kasat mata, sudah terlampaui, masuk ke dimensi lain, kesadaran lain. Tapi pada hakekatnya apa yang saya bahasakan dengan kata ‘Dimensi’ bukanlah keadaan alam non fisik yang ada di luar alam fisik, semua dimensi berada dalam diri kita, jadi kita tidak kemana-mana, kecuali keadaan tertentu yang membuat kita melakukan perjalanan nondimensi, yaitu alam nirfisik. Alam riil yag keadaanya bukan diperuntukan untuk jisim dengan struktur padat seperti jisim pada tubuh manusia dan sekitarnya.
Dalam perjalanan ini yang perlu dicamkan adalah keniscayaan, hukum kausal umum univers itu tetap ada, hukum alam masih ada, hanya sedikit perbedaan. Jika dalam alam fisik pusat gravitasinya adalah bumi, maka di alam non fisik pusat gravitasinya adalah keinginan diri sendiri atau hasrat atau nafsu atau ego—kita hindarkan dulu dan tidak mengupas perbedaan halus mengenai arti keinginan, hasrat, ego dan nafsu, itu pokok pembahasan berbeda—maka setiap kita memiliki keinginan dalam alam non fisik akan timbul perpektif ‘nyata’ dalam alam tersebut. Keadaan tersebut merupakan spektrum yang menjadi choice kemana kita akan melangkah. Keinginan sebagai pusat gravitasi menjadi daya tarik dan sekaligus menjadi pembeda pengalaman kognitif-spiritual pada tiap orang. Jangan heran jika menemui sosok penganut suatu disiplin tertentu akan berbeda dengan pelaku disiplin lain. Disiplin menjadi kecenderungan yang metodologis oleh formulator disiplin, baik formula disiplin tersebut berasal dari wawansabda Suprabeing Sang Hyang Taya Yang Tak Terbatas, ataupun sebagai hasil kontemplasi formulator sendiri, disiplin berarti kecenderungan tersistem untuk mengendalikan keinginan, hasrat dan nafsu manusia semenjak masih dalam alam kasat mata, alam cgs. Keinginan kuat yang ada dalam diri manusia sebagai barier utama dalam menuju perjalanan meta, dan sekaligus menjadi daya medan gravitas terbesar setelah berhasil masuk ke nirfisik. Sedemikian besar pengaruh keinginan sehingga menjadi ‘musuh’ utama bagi semua keyakinan dan agama. Dalam ‘disiplin’ Islam, penaklukan hawa nasfu menjadi ‘medan juang’ terbesar sepanjang kehidupan manusia. ‘Disiplin’ yang mengatur tata laku manusia (mujahadah), secara menyeluruh, dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali, disiplin 24 jam tanpa jeda, disiplin Islam berarti taat 24 jam (kaffah). Siapa mampu menaklukan diri sendiri niscaya alam nirfisik tergelar ‘dihadapannya’, perjalanan meta bukan berarti perjalanan magis, tapi iktibar untuk menyebut proses penemuan jati diri manusia tertinggi, aspek inti religius, menemukan arti bagaimana manusia hidup dan untuk apa ia hidup, bermasyarakat lengkap dengan kemampuan otak dan nalarnya. Adakah Sang Pembuat manusia menjadikan manusia tanpa tujuan ? Dan tujuan tersebut bukan menjadi milik, terpengaruh-mempengaruhi dengan Sang Pembuat, pencapaian tujuan itu menjadi kebutuhan manusia an sich.
Jika Sang Pembuat masih butuh dengan sikap dan perilaku manusia itu sendiri, sebagaimana ketergantungan dan butuhnya pembuat meja dengan meja itu sendiri, berarti Kekuatan itu menjadi tidak melebihi dari produk buatannya, ini menjadi mustahil bagi logika, bagaimana mungkin meja berarti lebih unggul dari pembuat meja. Perjalanan meta hanya proses yang adimanusiawi bagi kelangsungan hidup manusia. Siapapun ia, entah seorang atheis sekalipun, kehausan, hasrat mencari Sumber Kebenaran masih ada dan itu dibuktikan dengan munculnya telaah filsafatnya, pemikirannya berusaha membahas ‘asal’ segala sesuatu, berusaha menggapai kesempurnaan sesuai imajinasinya, keingianannya, mewujudkan metode kesempurnaan bentuk manusia, baik berupa disiplin sosialisme, disiplin liberal, disiplin Marxis, Freudian, Weberian, Cartesian, atau Newtonian. Masalahnya sampaikah logikanya pada penyentuhan keadaan Absolut, Yang Maha Mutlak, yang menjadi penetap adanya hukum alam ”baik dan buruk’ Bagaimana Cartesian tahu bahwa baik adalah ‘baik’, serangkaian perilaku (behavior) disebut ‘baik’ apa yang menjadi term ‘baik’ dan bagaimana ia kenal makna ‘baik’, apapun indikator baik baginya. Bisa jadi ‘baik’ bagi Nazi berarti keunggulan rasnya, bagaimana ‘baik’ bagi Nazi itu muncul.
Kita persingkat pembahasannya, jadi perjalanan nirfisik bukanlah fase untuk mencari kekuatan luar biasa bagi dirinya, tapi untuk tahu hakekat manusia menjadi manusia, bagi kehidupannya sendiri. Begitu pemahaman ini muncul, satu langkah maju sudah tercapai, menjadi titik awal untuk masuk fase selanjutnya. ‘Fase’ itu sendiri hanya sekumpulan kebijakan Absolut, Hukum Univers yang berarti etape bagi ulat untuk menjadi kupu, etape bagi cairan menjadi jasad manusia, etape dari beragam unsur pembentuk tanah menjadi cairan, fase berarti kun. Kesadaran ini mengangkat potensi an nafs dari dimensi awal manusia durah al ashfar dimana pusat gravitasi dimensi ini adalah musawwilah . Pembebasan diri manusia untuk melepas atribut gravitasi musawwilah, mulai memudarkan keinginan berbuat jahat pada person lain, melepaskan keinginan menjajah, menguasai manusia lain, dengan eksploitasi yang tidak memperdulikan apakah orang lain terluka, mati. Behavior manusia di gravitasi ini secara biologis mendekati watak animal, animal instinct.
Melepas animal instinct menjadi langkah awal untuk masuk dalam tahap berikutnya, durah al amnar yang pusat gravitasinya ada pada amarah. Dimensi ini di tandai dengan pendaran warna merah, berikutnya dimensi pendaran warna hijau. Pusat gravitasinya adalah lawwammah . Ini fase paling membingungkan, antara menurut akal pengetahuan atau menurut pada intuisi, Di sini pergumulan terjadi. Fase lainnya adalah durah al azraq dengan pusat gravitasi nafs mulhammah, lalu pendaran warna biru yang melampuai kesadaran biasa, melepas semua keinginan dan pengetahuan yang terdiri dari postulat-postulat sederhana. Ya pengetahuan menjadi benteng kuat bagi ego untuk mempertahankan status aku manusia. Misalnya postulat, batu – keras, postulat batu manusia ‘tahu’ wataknya karena pernah melihat, meraba, keras merupakan postulat untuk menyatakan suatu sifat. Pengetahuan batu keras merupakan sekumpulan postulat, lalu postulat dikembangkan lagi menjadi sebongkah batu mutiara -berharga, di komplekskan lagi postulatnya menjadi segunung mutiara -berharga, berharga merupakan postulat baru yang berasal dari postulat lain : ‘barang langka’ dan banyak orang mencari, banyak orang berminat, suka pada mutiara, dan berani membayar demi memilikinya, dan terus berkembang rangkaian postulat itu. Dan kumpulan postulat ini yang menjadi dasar pijakan untuk menyatakan serangkain rumus, teori bagi pengetahuan yang sudah didispilinkan menjadi ilmu. Apakah di dimensi nirfisik itu kumpulan postulat bisa dipakai, ya pengetahuan hanya serangkaian postulat saja, yang kita yakini karena kita tahu dan merasakannya, persis seperti analogi madu dan buah anggur. Tidak mutlak batu keras dan mutiara berharga, kondisi itu menyesuaikan postulat dan kondisi di sana. Mutiara berharga karena sedikit dan banyak peminat, tapi kalau mutiara berjumlah seperti pasir, tergelatk di semua sudut ruang, apakah berharga ? nilai pengetahuan menjadi in absolut bukan ? nah sampai dimana person memposisikan diri melepas kumpulan postulat dalam ranah fisik untuk diserahkan pada postulat lain, hukum yang berlaku disana. Lalu sulitkah? Ya bagi sebagai al murid, pejalan pemula sangat sulit sebab masih di kuasai kalimat serba ‘tidak mungkin’ dan mustahil. Berkuasanya postulat ‘mustahil’ dan ‘tidak mungkin’ masih ada dalam tatar halus ke-akuan- diri bahwa saya benar dan itu salah.
Semakin menembus masuk ke dalam dari menaklukan an nafs tantangan nafs juga semakin halus, tetapi sangat kuat. Seperti terjebak pada spektrum ingin ‘digdaya’ atau ‘waskita’, watak ini tidak lain adalah keinginan dari maujud aku dalam kondisi tertentu, masih tidak beranjak dari sifat manusia an sich. Aku menjadi tidak aku merupakan proses untuk masuk, meleburkan diri pada Kehendak (muraqabah) yang membawa pada dimensi putih hingga dimensi tiada warna, hanya terang saja tidak ada sesuatu apapun selain personifikasi dirinya yang wujudnya sama persis dialah ruh al idhofi, si guru sejati .Dalam dimensi terang itulah hakikat keakuan lenyap dalam pasrah (aslama) atas segal keadaan dan paham akan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Al ilma’menyeruak dalam rulang kesadaran menjadi panduan dalam perjalanan fisiknya kelak setelah sadar kembali. Dalam al ilma’ lewat al ilma’ pemahaman hakekat terkomunikasikan, masuklah pada dimensi tak terhingga yang masih membentang segala kemungkinan dan pengalaman.
Tak Terhingga
Apakah akan berhenti setelah menemukan kesunyian dan tenggelam dalam hening hidup? Tidak, semua proses hukum alam kembali berjalan apa adanya, perbedaanya mereka para penjelajah ini tahu makna kejadian yang menimpa dirinya, peristiwa lingkungannya, karena ketersingkapan sebagai keniscayaan itu sendiri. Tapi itu bukan lagi kehendaknya. Dalam tahapan ini seorang salik sudah tidak memiliki kehendak diri, tidak ada lagi keinginan, mati dalam hidup, berjalan-diperjalankan dalam keinginan Al Khalik, inilah arti manunggaling kawula kelawan gusti. Tidak ada lagi aku yang bersumber dari keinginan diri lawwammah, terbebas seperti kupu yang lepas dari fase kepompong. Dan pengambilan kata, nama bagi dimensi itu merupakan pinjaman kata, bahasa untuk komunikasi verbal antar manusia yang terbatas ini agar imaji kita mampu mennagkap apa yang deskripsikan, cicipilah laksana madu. Dan permakain kata untuk menggambarkan ‘keadaan’ demikian masih banyak, tergantung dari mana ia memulainya, tergantung dari perbendaharaan postulat macam apa yang dimilikinya, seperti menyebut air, toya, banyu, water dan seterusnya.
Ruh Al Idhofi berarti kembaran atau saudara yang darinya pemahaman sadar, kumpulan postulat terserap dalam akal dan menjadi terbenarkan, tapi bagi yang insan yang ‘tidak bangun’ tidak melakukan ‘fase pertemuan’ ia tidak berada dalam ‘posisi’ wawansabda dan tahu. Maka benarkah apa yang meyeruak dalam relung hati manusia, saat sendirian, saat sedang tidak berkomunikasi dengan orang lain, saat sedang berfikir adalah ruh al idhofi, yang melaluinya Adam Makrifat terpersonifikasi.
Tiada lagi Subsisten dan Eksisten, menjadi satu dalam hal (suatu predikat keadaan). Tiada sebab melainkan satu. Meski emanasinya beragam seibarat telapak tangan yang satu berwarna gelap dan satunya berwarna putih. Dari sisi gelap ini terpancar dan diakui keMutlaqkanNya oleh pemilik jisim yang lebih halus dari jisim fisik manusia, yang biasanya ia bergerak dalam disiplin tu dan to. Ya, bahwa makhluk penghuni bumi bukan manusia saja. Ia ada jauh sebelum kehidupan manusia ada, tapi tidak sedikit di antara mereka cenderung pada sisi lainnya. Jisim halus tidak tersentuh oleh indera, karena lebih halus. Jika kehalusan itu bisa dilampui terbentanglah kasunyatan mahkluk purwakala negeri. Keberadaan milyaran sel dalam fisik manusia saja masih terasa asing dan tidak dirasa keberadaanya.
Dunai jisim halus lebih sering dikatakan sebagai dunia gaib, padahal yang gaib adalah segala sesuatu yang tidak bisa dicerap lewat indriawi manusia. Hanya dirasakan keberadaanya ketika sudah diposisikan pada sebuah obyek, sebagaimana ‘ruh’, ‘daya hidup’ tidak berasa keberadaanya, hanya terlihat pada sebuah obyek hewan (sekumpulan marteri fisik) yang hidup, pada tumbuhan yang memanjang setiap hari (tidak pada tumbuhan mati) energi listrik pada perangkat lisrik, meski hanya seutas tambaga, dan seterusnya. Kalimat ini bukan pembenaran lewat ilmu science, tapi hanya meminjam kata untuk menggambarkan apa yang dimaksudkan oleh orang lain, kecuali seseorang mampu berkomunikasi dalam al ilma’ yang tidak menggunakan bahasa verbal linguistik.
Makna benar bukan lagi klaim mereka yang ada di posisi warna putihnya tangan, dalam sisi gelapnya tangan ada adagium yang memberikan pengenalan untuk menghantar mahkluk untuk mengenal Sang Absolut, semisal paham kapitayaan yang dibawa oleh Sang Hyang Hasmara, Sang Hyang Badanantra hingga moyangnya Dang Hyang Semar. Dan mereka mahkluk yang mengenal Sang Absolut lewat sisi putihnya tangan sebagaimana mereka yang ada dalam theosofi. Ingat, ada diktum dalam sebuah ajaran kebenaran, bahwa ‘Setan’ juga tahu bahwa ia hanya wajib tunduk pada Tuhan, saking tunduknya kaum ini disuruh bersujud pada manusia saja enggan. Hanya Dia yang tahu kebenaran Sejati.
Theosofi
Theosofi merupakan paham kebenaran yang memandang persatuan umat manusia tanpa gender, ras, sekat agama dan keyakinan ia membawa paham persaudaraan universal. Tetapi tidak bagi pemahaman theosphia yang memberikan maka penalaran atas theologi. Maka tidak semua penalran logika berarti theosofi, sebab ia harus berbasisi pada ketuhanan Wujud Absolut, Al Huwa tanpa dasar ini berari pemikiran menelaah segal aspek metafisis berkecenderungan sebagai humanisme sekuler. Memesahkan posisi campur tangan Pencipta pada ciptaannya, dan itu mustahil sebab tidak mungkin sel, atau benda mati melahirkan benda hidup, sel hidup.
Maka setiap person, orang yang melakukan penelaahan, berpikir tentang ciptaan dan merenungi ciptaan berarti ia berpikir teologis, karena hanya lewat pendekatan pada makhlukk, ciptaan baru bisa menangkap mengakui jejak ke agungan Pencipta. Di setiap penciptaan dalam semua bentuk mahkluk, mulai dari sel sederhana hingga mahkluk hidup dan mahkluk non materi terkandung bukti Kuasa Tuhan. Inilah novum organum yang kelak semestinya bisa mendasari pemikiran pengetahun kontemporer, tidak melepaskan zat dari Kuasa Tuhan
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Aali 'Imraan, 3:18)
Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yangtelah Engkau ajarkan kepada kami;sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah, 2: 32)
Rabu, 18 Juli 2007
Artikel
DKP Pusat dan ‘DKP Lokal’ Identik ?
Oleh Hudjolly
Menggelitik kalau melihat perhelatan pentas nasional dalam Departemen Perikanan dan Kelautan. Bagaimana tidak tergelitik, wong dana sebegitu besar kok bisa terserap ke mana-mana tanpa jejak, saya sebagai orang yang pernah mengenyam bangku kuliah bidang perpajakan, menganggap perkara ini aneh. Sedemikian rentankah sistem alur transaksi departermen ini ? Jawabnya harus iya, rentan, bahkan teramat rentan sekali.
Kenapa saya ngotot mengatakan teramat rentan sekali, analoginya simple, jangan terlalu jauh, dari dekat saja, lihat Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Tegal (distankel), bukankah saat ini sedang dikejar-kejar lagi soal dana ingub, bantuan untuk bos-nya nelayan—bukan bantuan buat nelayan, sebab yang dibantu adalah pemilik kapal untuk membuat kapal baru, atau pembelian peralatan baru—lalu apakah sepi dari persoalan ? ruwet bukan ? Mau contoh data lagi ? Ada, praktek jual beli aset pemerintah daerah, berupa tempat pengepakan ikan yang dibangun lewat dan APBD Kota Tegal tahun 2003/2004, pasti Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Tegal akan menyatakan bahwa pihaknya tidak tahu. Apakah ketidaktahuan ini harus kita percaya, wong masyarakat pelabuhan juga tahu kinerja mereka, ngerti siapa yang mengatur tata ruang lahan, space di kawasan TPI pelabuhan.
Lalu, masih ada lagi, kisruh soal pembagian lahan di Blok Jongor, bantuan bagi nelayan yang diberikan oleh Pemkot Tegal sebagai dana bergulir, apakah ada pertanggungjawabanya. Namanya saja dana bergulir, apakah hingga sekarang masih bergulir. Mau tahu lebih banyak, anda harus menjadi auditor resmi untuk membuka fail di Distankel, agar mengetahui semua perkara keuangan yang ada disana, disana praktek ala ‘DKP’ lokal masih potensial, termasuk lokasi baru yang diresmikan Menteri Perikanan, Fredy Numberi, beberapa waktu silam. Apakah tidak ada udang di balik batu atas semua itu, tidak ada yang tahu persis, pas, tepat seperti kejadian dana non bujeter DKP, semuanya bingung siapa saja yang menerima. Bahkan Rohmin juga masih bingung siapa saja yang telah menerima. Dalihnya dana non bujeter itu warisan menteri sebelumnya, persis seperti Distankel Kota Tegal, ‘sistem ini’ sudah ada sejak dulu, warisan pemimpin sebelumnya, hwarakadal ? kan sama ruwetnya meski tidak identik.
Nah apa yang berbeda, pemberdayaan potensi kelautan kita. Bukankah Kota Tegal punya space ruang pantai yang demikian luas, untuk menyatakan semua itu berpeluang, akan dibantah oleh beberapa kelangan. Bahwa penanganan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) saja masih carut marut, lelang tidak kunjung terjadi melainkan sedikit, pembayaran retribusi masih tidak mencukupi operasional PPP, lalu apa yang potensial ? Sulit untuk menjawabnya. Tetapi ada sinyal serius yang bisa dilihat.
Keberadaan penanam modal hingga Rp 890 miliar rupiah pada dok kapal di Pelabuhan Tegal, mempunyai implikasi luas. Artinya akan ada pengerukan alur pelabuhan untuk bisa masuk kapal besar, guna menangkap kapal besar mau melakukan perbaikan di sana. Maka arus lalu lintas perairan akan makin semarak, jadi pemerintah kota harus menganggap dirinya sektor swasta yang punya duit dan punya kekuasaan, masuk sebagai salah satu investor pemegang pengembangan infrastruktur pelabuhan, bermain disana bukan sebagai penonton yang nunggu pecingan.
Apalagi malahan katakutan dengan dalih klise, bukan tanah pemkot. Ya emangnya pelabuhan tidak taat hukum, kan ada konsesi, kan ada perjanjian. Sekali lagi anggap ‘diri’ pemkot Tegal sebagai swasta, maka ia bisa bermain, tidak harus bermimpi menjadi pemilik mutlak, karena tidak mungkin. Daripada mengembangkan tenis indoor, oke lah kita punya segudang prestasi dalam bidang tenis, tetapi tidak harus menjadi inklusif, jangan mengandalkan posisi salah satu petinggi Dinas Pekerjaan Umun Kota Tegal membidangi tenis, sehingga perlu tenis indoor. Dengan dana sama masih bisa bermain di sana, masih bisa menjadi talent dalam film Pelabuhan Tegal.
Kembali ke fungsi kelautan, pemkot masih perlu berpikir tentang memberdayakan potensi lokal, membangun pusat perdagangan hasil laut di Kota Tegal. Mengingat daya beli masyarakat kita sudah tinggi, dibuktikan dengan keberadaan tiga supermarket. Daya beli sudah ada, produsen sudah ada, yang belum ada sarana mempertemukan daya beli terhadap produsen. Itu peluang usaha BUMD. Jadi tidak hanya mengandalkan pungutan retribusi sebagai PAD. Walaupun khusus untuk retribusi perikanan pelabuhan Tegal hasilnya bisa mencapai setengah APBD Kota Tegal setiap tahun. Tetapi apa pemerintah kota menikmatinya ? tidak bukan, ini suatu celah masuk untuk mendongkrak PAD. Kalau berbicara defensifitas pemprov pada sektor ini, bukankah saat ini banyak tokoh peminat kursi gubernur berkeliaran di Kota Tegal, toh bisa melakukan konsesus, deal politik. Barangkali kelak bermanfaat.
Sektor perikanan tangkap masih terbuka luas. Tapi ada yang perlu kita perhatikan, pemkot saat ini punya beberapa kapal, menghasilkankah ? Ternyata tidak, berarti ada yang salah pada sistem proyek pengadaan kapal, lalu dari dinas mana usulan itu muncul ? distankel kah ? Jadi soal masuknya investor jangan dicemburui, jangan dijadikan rent seeker oleh person yang punya kekuasaan di lembaga apapun itu. Jadikan Tegal mempunyai daya saing tinggi. Tegal masih prospekif bagi sektor bahari tinggal apakah mampu aparatur di sana melahirkan karya ? Bukan sekedar melahirkan pungutan melegalkan jual beli aset daerah.
Oleh Hudjolly
Menggelitik kalau melihat perhelatan pentas nasional dalam Departemen Perikanan dan Kelautan. Bagaimana tidak tergelitik, wong dana sebegitu besar kok bisa terserap ke mana-mana tanpa jejak, saya sebagai orang yang pernah mengenyam bangku kuliah bidang perpajakan, menganggap perkara ini aneh. Sedemikian rentankah sistem alur transaksi departermen ini ? Jawabnya harus iya, rentan, bahkan teramat rentan sekali.
Kenapa saya ngotot mengatakan teramat rentan sekali, analoginya simple, jangan terlalu jauh, dari dekat saja, lihat Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Tegal (distankel), bukankah saat ini sedang dikejar-kejar lagi soal dana ingub, bantuan untuk bos-nya nelayan—bukan bantuan buat nelayan, sebab yang dibantu adalah pemilik kapal untuk membuat kapal baru, atau pembelian peralatan baru—lalu apakah sepi dari persoalan ? ruwet bukan ? Mau contoh data lagi ? Ada, praktek jual beli aset pemerintah daerah, berupa tempat pengepakan ikan yang dibangun lewat dan APBD Kota Tegal tahun 2003/2004, pasti Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Tegal akan menyatakan bahwa pihaknya tidak tahu. Apakah ketidaktahuan ini harus kita percaya, wong masyarakat pelabuhan juga tahu kinerja mereka, ngerti siapa yang mengatur tata ruang lahan, space di kawasan TPI pelabuhan.
Lalu, masih ada lagi, kisruh soal pembagian lahan di Blok Jongor, bantuan bagi nelayan yang diberikan oleh Pemkot Tegal sebagai dana bergulir, apakah ada pertanggungjawabanya. Namanya saja dana bergulir, apakah hingga sekarang masih bergulir. Mau tahu lebih banyak, anda harus menjadi auditor resmi untuk membuka fail di Distankel, agar mengetahui semua perkara keuangan yang ada disana, disana praktek ala ‘DKP’ lokal masih potensial, termasuk lokasi baru yang diresmikan Menteri Perikanan, Fredy Numberi, beberapa waktu silam. Apakah tidak ada udang di balik batu atas semua itu, tidak ada yang tahu persis, pas, tepat seperti kejadian dana non bujeter DKP, semuanya bingung siapa saja yang menerima. Bahkan Rohmin juga masih bingung siapa saja yang telah menerima. Dalihnya dana non bujeter itu warisan menteri sebelumnya, persis seperti Distankel Kota Tegal, ‘sistem ini’ sudah ada sejak dulu, warisan pemimpin sebelumnya, hwarakadal ? kan sama ruwetnya meski tidak identik.
Nah apa yang berbeda, pemberdayaan potensi kelautan kita. Bukankah Kota Tegal punya space ruang pantai yang demikian luas, untuk menyatakan semua itu berpeluang, akan dibantah oleh beberapa kelangan. Bahwa penanganan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) saja masih carut marut, lelang tidak kunjung terjadi melainkan sedikit, pembayaran retribusi masih tidak mencukupi operasional PPP, lalu apa yang potensial ? Sulit untuk menjawabnya. Tetapi ada sinyal serius yang bisa dilihat.
Keberadaan penanam modal hingga Rp 890 miliar rupiah pada dok kapal di Pelabuhan Tegal, mempunyai implikasi luas. Artinya akan ada pengerukan alur pelabuhan untuk bisa masuk kapal besar, guna menangkap kapal besar mau melakukan perbaikan di sana. Maka arus lalu lintas perairan akan makin semarak, jadi pemerintah kota harus menganggap dirinya sektor swasta yang punya duit dan punya kekuasaan, masuk sebagai salah satu investor pemegang pengembangan infrastruktur pelabuhan, bermain disana bukan sebagai penonton yang nunggu pecingan.
Apalagi malahan katakutan dengan dalih klise, bukan tanah pemkot. Ya emangnya pelabuhan tidak taat hukum, kan ada konsesi, kan ada perjanjian. Sekali lagi anggap ‘diri’ pemkot Tegal sebagai swasta, maka ia bisa bermain, tidak harus bermimpi menjadi pemilik mutlak, karena tidak mungkin. Daripada mengembangkan tenis indoor, oke lah kita punya segudang prestasi dalam bidang tenis, tetapi tidak harus menjadi inklusif, jangan mengandalkan posisi salah satu petinggi Dinas Pekerjaan Umun Kota Tegal membidangi tenis, sehingga perlu tenis indoor. Dengan dana sama masih bisa bermain di sana, masih bisa menjadi talent dalam film Pelabuhan Tegal.
Kembali ke fungsi kelautan, pemkot masih perlu berpikir tentang memberdayakan potensi lokal, membangun pusat perdagangan hasil laut di Kota Tegal. Mengingat daya beli masyarakat kita sudah tinggi, dibuktikan dengan keberadaan tiga supermarket. Daya beli sudah ada, produsen sudah ada, yang belum ada sarana mempertemukan daya beli terhadap produsen. Itu peluang usaha BUMD. Jadi tidak hanya mengandalkan pungutan retribusi sebagai PAD. Walaupun khusus untuk retribusi perikanan pelabuhan Tegal hasilnya bisa mencapai setengah APBD Kota Tegal setiap tahun. Tetapi apa pemerintah kota menikmatinya ? tidak bukan, ini suatu celah masuk untuk mendongkrak PAD. Kalau berbicara defensifitas pemprov pada sektor ini, bukankah saat ini banyak tokoh peminat kursi gubernur berkeliaran di Kota Tegal, toh bisa melakukan konsesus, deal politik. Barangkali kelak bermanfaat.
Sektor perikanan tangkap masih terbuka luas. Tapi ada yang perlu kita perhatikan, pemkot saat ini punya beberapa kapal, menghasilkankah ? Ternyata tidak, berarti ada yang salah pada sistem proyek pengadaan kapal, lalu dari dinas mana usulan itu muncul ? distankel kah ? Jadi soal masuknya investor jangan dicemburui, jangan dijadikan rent seeker oleh person yang punya kekuasaan di lembaga apapun itu. Jadikan Tegal mempunyai daya saing tinggi. Tegal masih prospekif bagi sektor bahari tinggal apakah mampu aparatur di sana melahirkan karya ? Bukan sekedar melahirkan pungutan melegalkan jual beli aset daerah.
Kumpulan Tajuk (politik-Pemerintahan Tegal Dan Sekitarnya
Tajuk 18 Juli--07
(Oleh Hudjolly)
Alam Masih Diabaikan
Momentum 5 Juni belum berselang lama, nada peringatan menyatakan dukungan pada pelestarian lingkungan masih tampak, meski hanya sisa spanduk di depan beberapa kantor. Namun spirit dari peringatan hari lingkungan internasional sudah tidak lagi terasa menggigit. Kota Tegal tidak merasa dihebohkan oleh peristiwa pengerukan pasir pantai. Seolah perkara tersebut bukan hal besar dan tidak perlu membuat panik.
Padahal jika kita melihat negeri Singapura yang rela membelanjakan milyaran US dolar untuk memasukan pasir dari Indonesia secara ilegal, pasti kita baru merasakan betapa enaknya negeri kita memiliki hamparan pasir pantai tanpa perlu import. Ya pasir pantai adalah karunia yang jarang kita rasakan manfaatnya secara langsung.
Pasir pantai menjadi benteng resapan air laut yang masuk ke permukaan air tanah kita. Tidak banyak yang menyadari hal itu, pasir laut masih dianggap barang tak bertuan. Dan tidak hanya soal pasir pantai, masih ada kekayaan alam Tegal tidak dirasakan. Laut masih menganga dan menjanjikan penghasilan tangkapan ikan luar biasa, pemerintah belum mempunyai andil dalam pemanfaatan tersebut.
Sementara curah air hujan yang tinggi saat musim hujan masih belum bisa termanfaatkan dengan baik, menjadi simpanan di musim kemarau seperti sekarang ini. Bukankah pemerintah kebingungan mensuplay air bersih bagi kebutuhan rumah tangga perkotaan di masa kekeringan. Bayangkan jika rumah tangga punya sumber air tanah yang bisa dimanfaatkan dengan baik, ancaman kekeringan bisa diminimalkan.
Pemerintah kita masih suka melakukan pembiaran pada berbagai komponen bernilai, tapi belum tergarap. Letak pantai yang strategis masih dianggap bukan asset dan belum ada penanaman modal pemerintah daerah pada potensi kekayaan laut, pada ruang pesisir Kota Tegal.
Mungkin pemerintah tidak salah seratus persen, sebab pesisir Tegal juga tidak hanya satu bagian tunggal, ia masih menjadi bagian tidak terpisah terhadap sambungan sungai di Kabupaten Tegal, dan sambungan pantai di Kabupeten Pemalang, dan begitu seterusnya, maka kerjasama antar pemerintah daerah dalam menggunakan dan mendesain tata ruang pantai menjadi urgen
Beberapa waktu lalu muncul wacana untuk membuat perda pemanfaatan coastal, ruang pantai, pesisir dan segala pernak-pernik di sekelilingnya, termasuk aturan bagi sektor usaha agar bisa memanfaatkan pantai secara bertanggung jawab. Tidak mengeruk pasir sekedar untuk pemanfaatan pribadi. Pantai, air bersih, udara bersih adalah barang bernilai yang sering diabaikan pemerintah, ketiganya kerap di rusak oleh kedatangan investasi. Lihat galian C di daerah Kabupaten Tegal, Pemalang, Brebes, masih merajalela tanpa pertanggujawaban reklamasi. Tanah ini harus diwariskan pada anak cucu dalam keadaan baik -d
(Oleh Hudjolly)
Alam Masih Diabaikan
Momentum 5 Juni belum berselang lama, nada peringatan menyatakan dukungan pada pelestarian lingkungan masih tampak, meski hanya sisa spanduk di depan beberapa kantor. Namun spirit dari peringatan hari lingkungan internasional sudah tidak lagi terasa menggigit. Kota Tegal tidak merasa dihebohkan oleh peristiwa pengerukan pasir pantai. Seolah perkara tersebut bukan hal besar dan tidak perlu membuat panik.
Padahal jika kita melihat negeri Singapura yang rela membelanjakan milyaran US dolar untuk memasukan pasir dari Indonesia secara ilegal, pasti kita baru merasakan betapa enaknya negeri kita memiliki hamparan pasir pantai tanpa perlu import. Ya pasir pantai adalah karunia yang jarang kita rasakan manfaatnya secara langsung.
Pasir pantai menjadi benteng resapan air laut yang masuk ke permukaan air tanah kita. Tidak banyak yang menyadari hal itu, pasir laut masih dianggap barang tak bertuan. Dan tidak hanya soal pasir pantai, masih ada kekayaan alam Tegal tidak dirasakan. Laut masih menganga dan menjanjikan penghasilan tangkapan ikan luar biasa, pemerintah belum mempunyai andil dalam pemanfaatan tersebut.
Sementara curah air hujan yang tinggi saat musim hujan masih belum bisa termanfaatkan dengan baik, menjadi simpanan di musim kemarau seperti sekarang ini. Bukankah pemerintah kebingungan mensuplay air bersih bagi kebutuhan rumah tangga perkotaan di masa kekeringan. Bayangkan jika rumah tangga punya sumber air tanah yang bisa dimanfaatkan dengan baik, ancaman kekeringan bisa diminimalkan.
Pemerintah kita masih suka melakukan pembiaran pada berbagai komponen bernilai, tapi belum tergarap. Letak pantai yang strategis masih dianggap bukan asset dan belum ada penanaman modal pemerintah daerah pada potensi kekayaan laut, pada ruang pesisir Kota Tegal.
Mungkin pemerintah tidak salah seratus persen, sebab pesisir Tegal juga tidak hanya satu bagian tunggal, ia masih menjadi bagian tidak terpisah terhadap sambungan sungai di Kabupaten Tegal, dan sambungan pantai di Kabupeten Pemalang, dan begitu seterusnya, maka kerjasama antar pemerintah daerah dalam menggunakan dan mendesain tata ruang pantai menjadi urgen
Beberapa waktu lalu muncul wacana untuk membuat perda pemanfaatan coastal, ruang pantai, pesisir dan segala pernak-pernik di sekelilingnya, termasuk aturan bagi sektor usaha agar bisa memanfaatkan pantai secara bertanggung jawab. Tidak mengeruk pasir sekedar untuk pemanfaatan pribadi. Pantai, air bersih, udara bersih adalah barang bernilai yang sering diabaikan pemerintah, ketiganya kerap di rusak oleh kedatangan investasi. Lihat galian C di daerah Kabupaten Tegal, Pemalang, Brebes, masih merajalela tanpa pertanggujawaban reklamasi. Tanah ini harus diwariskan pada anak cucu dalam keadaan baik -d
Langganan:
Postingan (Atom)