Sabtu, 03 November 2007

Tajuk Lingkungan (November)

Tajuk 01-11-2007
Mitigasi Bencana
Di tanah Republik yang berbasis kepulauan, membuat rona wilayah kita sangat berdekatan dengan areal bukit dan deret gunung yang masih aktif. Oleh karenanya ancaman bencana akibat gunung meletus juga relatif tinggi. Ditambah kondisi perbukitan dan gugusan gunung yang membentuk kawasan tinggi semakin mempertegas ancaman kondisi alam, longsor.
Bencana adalah keniscayaan ketika alam rusak. Dan tidak bisa kita menafikkan diri dari kekayaan, manfaat alam perbukitan, pegunungan. Keadaan tanah di sekitar gunung tentu menjadi daya dukung sektor pertanian dan potensi wisata yang tinggi. Jika mengukur tingkat keberuntungan, rasanya tiada perbedaan antara dataran tinggi atau dataran rendah. Keduanya beresiko menangguk bencana alam.
Di dataran rendah, ada ancaman tsunami dan gempa. Di dataran tinggi ancaman longsor dan gunung meletus adalah dua perkara yang populer di masyarakat. Di manapun berada ancaman bencana senantiasa ada. Teknologi yang ada sekedar mendeteksi sesudah kejadian, baik bencana dalam tahap gejala atau sudah terjadi dalam skala rendah. Teknologi belum dapat memindahkan bencana apalagi menghalau bencana, sekaligus memprediksi akurat.
Yang perlu kita kerjakan adalah kesadaran untuk membangun menejemen lingkungan yang integrated, menyeluruh dan berkesinambungan. Keadaan alam bagaimanapun ramahnya senantiasa menyimpan banyak kemungkinan, sebab kita tidak tahu kapan lapisan bumi ini bergerak. Kita hanya memprediksi dengan nama potensi. Ancaman longsor di Pemalang, mengintai 51 desa adalah masalah serius.
Rasanya kita perlu melihat, bagaimana pemerintah mendekati alam disana. Mengeksploitasi alam tidak sama dengan memanfaatkan alam. Memanfaatan alam masih mengandung unsur menjaga keseimbangan, mengambil manfaat, misal kayu dan material dengan tetap memperhatikan kesimbangan, kekuatan alam mentolerir perubahan struktur dirinya.
Untuk itu perlu ada jaminan bagi kelangsungan alam tetap lestari. Boleh memanfaatkan alam, mengambil kayu, menebang pohon asal tidak melupakan perhitungan penghijauan, menyeimbangkan laju penebangan dengan laju pertumbuhan pohon. Mengintensifkan program perlindungan alam sampai tingkat basis. Rasanya masyarakat juga tidak akan menebang pohon cukup banyak jika tidak ada permintaan dari luar yang mendorong hasrat penebangan pohon secara masal.
Pemda harus menyentuh kelompok ini, para pemicu dan penggerak penebang pohon. Jangan sampai rakyat jelata yang terhimpit ekonomi sekedar dijadikan alat untuk proses deforestasi alam. Maka sangat diperlukan program terpadu, menyeluruh dalam pembangunan berwawasan lingkungan. Rencana yang tepat dan serentak di berbagai daerah, sebab peredaran hasil hutan sudah tidak lagi mengenal batas wilayah yang jelas. Tidak ketinggalan mempersipkan menejemen penanganan bencana yang tepat, cepat dan efesien-d

Tidak ada komentar: