Novum Organum
Oleh : Hudjolly
Seorang bertanya bagaimana anda membuktikan bahwa yang spiritual itu eksis, bahwa pengalaman non inderawi merupakan sesuatu yang riil, semua itu hanya rabaan saja. Maka akan saya jawab dengan meminjam analogi Muhyidin Ibnu Arabi saat ditanya “Bagaimana anda membuktikan tuhan ada“. Jawabnya malah berupa pertanyaan, “Bagaimana anda bisa membuktikan bahwa madu itu manis rasanya ?” Sebab semua orang tahu dan sepakat bahwa madu manis lewat jalan mencicipi madu. Untuk menjawab bagaimana pengalaman spiritual itu eksis ya lakukan sebagaimana mencicipi madu. Kalau hanya menceritakan bahwa madu manis, bahwa rasa buah anggur yang ranum itu segar pada orang yang tidak tahu madu, tidak pernah melihat buah anggur ranum, tidak pernah mencicipi madu, maka bagaimana ia akan faham dengan apa yang anda ceritakan.
Seuntai dialog tersebut penting, mengingat apa yang terjadi pada manusia modern acapkali meminta bukti akan bentuk yang eksisten di luar eksistensi manusia. Evident menjadi barang yang demikian penting pada ranah pengetahuan modern, sehingga tiga aspek kehidupan yakni fisik, metafisik dan Ekstrafisis menjadi barang aneh—sebelum kita melangkah pada pembahasan non fisik—padahal semua percobaan laboratorium sama dengan ‘merasakan’ secara empirik apa yang diteorikan orang tentang suatu hal, ternyata kejadiannya persis sebagaimana orang tersebut berkata. Jika orang mengatakan ‘es dipanaskan mencair’, ia akan mengalami ‘es mencair saat dipanaskan’. Jadi jika disuruh membuktikan isi paparan di bawah ini, saya jawab,”cicipi saja!”
Hening dan Hampa
Meminjam dialektika modern, sebuah penelitan kedokteran menyatakan bahwa kapling otak bawah sadar lebih banyak dari pada kapling otak mengendalikan kemampuan sadar manusia, 1/7 persen sadar dan 6/7 bawah sadar. Dengan porsi kemampuan bawah sadar yang lebih besar, seberapa besar potensi dan hal yang bisa dikerjakan dengan kemampuan bawah sadar itu. Bayangkan, dengan 1/7 bagian saja, manusia bisa mencapai tingkat kemajuan seperti sekarang ini. Tapi kemampuan ilmu pengetahuan (science) itu belum bisa memerintahkan jantung agar berhenti berdetak, selain dengan menggunakan stimulasi kimia yang merangsang organ motorik jantung terhambat bekerja. Kinerja jantung hanya butiran pasir bagi kemampuan bawah sadar.
Lewat pintu ‘bawah sadar’, manusia mengenali jati dirinya di dalam dimensi putih durah al baidha. Bawah sadar hanya pintu masuk untuk menggambarkan keadaan tubuh dan pikiran manusia saat sedang berada posisi khalwat secara intens. Menjauhkan diri dari keramaian dunia meski berada di tengah pasar, dalam hiruk pikuk perdagagan, tetapi kesunyian pikiran dan jiwa masih terjaga. Setiap orang jika tidak sedang berkomunikasi dengan orang lain, maka ia ‘seolah’ bercakap dengan diri sendiri, itu menggambarakan bahwa keadaan diri kita tidak kosong dari keadaan tertentu. Dan kejadian bercakap itu bisa juga dalam posisi berimajinasi, berkhayal atau merenung, dimanakah ke-aku-an itu bersemayam. Ia seperti orang lain, outsider tapi tahu benar detail diri kita, sehingga tidak bisa dibohongi, dan acapkali mengajak melakukan suatu perbuatan.
Lalu apakah ia baik atau buruk ? Nah disitulah keterbatasan, berhenti dulu untuk melakukan penilaian dengan dikotomi sederhana. Segalanya dinilai hitam dan putih. Sebaiknya kita memasukan itu dalam stage an Nafs, yang dengannya kita bisa merasa tidak sepi. Sekaligus ia menjadi benteng pertama untuk memasuki keheningan jiwa. Sebelum memasuki durah al baidha, yang eksis dari perwujudan pancaran watak an nafs dengan ‘nafsu’ wahidah yang menggambarkan keinginan kuat untuk mulia dengan tuhan berbuat baik yang kesemuanya itu tidak lain dari personifikasi wujud aku dalam stratum halus. Ya ketika keinginan menjadi mulia adalah kebutuhan dan tujuan maka disitulah keberadaan id aku.
Dalam fase sadar, melakukan olah gerak dengan pengendalian nafas, jalan darah hingga memasuki tahap bersatunya diri sadar terhadap apa yang difokuskan, itu tahapan awal memasuki dunia supradimensi. Bahwa keterbatasan centimeter, gram dan second tidak lagi mengikat struktur kesadaran kita. Alam mulai menunjukan keajaibannya sendiri. Dalam bahasa sederhana alam fisik kasat mata, sudah terlampaui, masuk ke dimensi lain, kesadaran lain. Tapi pada hakekatnya apa yang saya bahasakan dengan kata ‘Dimensi’ bukanlah keadaan alam non fisik yang ada di luar alam fisik, semua dimensi berada dalam diri kita, jadi kita tidak kemana-mana, kecuali keadaan tertentu yang membuat kita melakukan perjalanan nondimensi, yaitu alam nirfisik. Alam riil yag keadaanya bukan diperuntukan untuk jisim dengan struktur padat seperti jisim pada tubuh manusia dan sekitarnya.
Dalam perjalanan ini yang perlu dicamkan adalah keniscayaan, hukum kausal umum univers itu tetap ada, hukum alam masih ada, hanya sedikit perbedaan. Jika dalam alam fisik pusat gravitasinya adalah bumi, maka di alam non fisik pusat gravitasinya adalah keinginan diri sendiri atau hasrat atau nafsu atau ego—kita hindarkan dulu dan tidak mengupas perbedaan halus mengenai arti keinginan, hasrat, ego dan nafsu, itu pokok pembahasan berbeda—maka setiap kita memiliki keinginan dalam alam non fisik akan timbul perpektif ‘nyata’ dalam alam tersebut. Keadaan tersebut merupakan spektrum yang menjadi choice kemana kita akan melangkah. Keinginan sebagai pusat gravitasi menjadi daya tarik dan sekaligus menjadi pembeda pengalaman kognitif-spiritual pada tiap orang. Jangan heran jika menemui sosok penganut suatu disiplin tertentu akan berbeda dengan pelaku disiplin lain. Disiplin menjadi kecenderungan yang metodologis oleh formulator disiplin, baik formula disiplin tersebut berasal dari wawansabda Suprabeing Sang Hyang Taya Yang Tak Terbatas, ataupun sebagai hasil kontemplasi formulator sendiri, disiplin berarti kecenderungan tersistem untuk mengendalikan keinginan, hasrat dan nafsu manusia semenjak masih dalam alam kasat mata, alam cgs. Keinginan kuat yang ada dalam diri manusia sebagai barier utama dalam menuju perjalanan meta, dan sekaligus menjadi daya medan gravitas terbesar setelah berhasil masuk ke nirfisik. Sedemikian besar pengaruh keinginan sehingga menjadi ‘musuh’ utama bagi semua keyakinan dan agama. Dalam ‘disiplin’ Islam, penaklukan hawa nasfu menjadi ‘medan juang’ terbesar sepanjang kehidupan manusia. ‘Disiplin’ yang mengatur tata laku manusia (mujahadah), secara menyeluruh, dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali, disiplin 24 jam tanpa jeda, disiplin Islam berarti taat 24 jam (kaffah). Siapa mampu menaklukan diri sendiri niscaya alam nirfisik tergelar ‘dihadapannya’, perjalanan meta bukan berarti perjalanan magis, tapi iktibar untuk menyebut proses penemuan jati diri manusia tertinggi, aspek inti religius, menemukan arti bagaimana manusia hidup dan untuk apa ia hidup, bermasyarakat lengkap dengan kemampuan otak dan nalarnya. Adakah Sang Pembuat manusia menjadikan manusia tanpa tujuan ? Dan tujuan tersebut bukan menjadi milik, terpengaruh-mempengaruhi dengan Sang Pembuat, pencapaian tujuan itu menjadi kebutuhan manusia an sich.
Jika Sang Pembuat masih butuh dengan sikap dan perilaku manusia itu sendiri, sebagaimana ketergantungan dan butuhnya pembuat meja dengan meja itu sendiri, berarti Kekuatan itu menjadi tidak melebihi dari produk buatannya, ini menjadi mustahil bagi logika, bagaimana mungkin meja berarti lebih unggul dari pembuat meja. Perjalanan meta hanya proses yang adimanusiawi bagi kelangsungan hidup manusia. Siapapun ia, entah seorang atheis sekalipun, kehausan, hasrat mencari Sumber Kebenaran masih ada dan itu dibuktikan dengan munculnya telaah filsafatnya, pemikirannya berusaha membahas ‘asal’ segala sesuatu, berusaha menggapai kesempurnaan sesuai imajinasinya, keingianannya, mewujudkan metode kesempurnaan bentuk manusia, baik berupa disiplin sosialisme, disiplin liberal, disiplin Marxis, Freudian, Weberian, Cartesian, atau Newtonian. Masalahnya sampaikah logikanya pada penyentuhan keadaan Absolut, Yang Maha Mutlak, yang menjadi penetap adanya hukum alam ”baik dan buruk’ Bagaimana Cartesian tahu bahwa baik adalah ‘baik’, serangkaian perilaku (behavior) disebut ‘baik’ apa yang menjadi term ‘baik’ dan bagaimana ia kenal makna ‘baik’, apapun indikator baik baginya. Bisa jadi ‘baik’ bagi Nazi berarti keunggulan rasnya, bagaimana ‘baik’ bagi Nazi itu muncul.
Kita persingkat pembahasannya, jadi perjalanan nirfisik bukanlah fase untuk mencari kekuatan luar biasa bagi dirinya, tapi untuk tahu hakekat manusia menjadi manusia, bagi kehidupannya sendiri. Begitu pemahaman ini muncul, satu langkah maju sudah tercapai, menjadi titik awal untuk masuk fase selanjutnya. ‘Fase’ itu sendiri hanya sekumpulan kebijakan Absolut, Hukum Univers yang berarti etape bagi ulat untuk menjadi kupu, etape bagi cairan menjadi jasad manusia, etape dari beragam unsur pembentuk tanah menjadi cairan, fase berarti kun. Kesadaran ini mengangkat potensi an nafs dari dimensi awal manusia durah al ashfar dimana pusat gravitasi dimensi ini adalah musawwilah . Pembebasan diri manusia untuk melepas atribut gravitasi musawwilah, mulai memudarkan keinginan berbuat jahat pada person lain, melepaskan keinginan menjajah, menguasai manusia lain, dengan eksploitasi yang tidak memperdulikan apakah orang lain terluka, mati. Behavior manusia di gravitasi ini secara biologis mendekati watak animal, animal instinct.
Melepas animal instinct menjadi langkah awal untuk masuk dalam tahap berikutnya, durah al amnar yang pusat gravitasinya ada pada amarah. Dimensi ini di tandai dengan pendaran warna merah, berikutnya dimensi pendaran warna hijau. Pusat gravitasinya adalah lawwammah . Ini fase paling membingungkan, antara menurut akal pengetahuan atau menurut pada intuisi, Di sini pergumulan terjadi. Fase lainnya adalah durah al azraq dengan pusat gravitasi nafs mulhammah, lalu pendaran warna biru yang melampuai kesadaran biasa, melepas semua keinginan dan pengetahuan yang terdiri dari postulat-postulat sederhana. Ya pengetahuan menjadi benteng kuat bagi ego untuk mempertahankan status aku manusia. Misalnya postulat, batu – keras, postulat batu manusia ‘tahu’ wataknya karena pernah melihat, meraba, keras merupakan postulat untuk menyatakan suatu sifat. Pengetahuan batu keras merupakan sekumpulan postulat, lalu postulat dikembangkan lagi menjadi sebongkah batu mutiara -berharga, di komplekskan lagi postulatnya menjadi segunung mutiara -berharga, berharga merupakan postulat baru yang berasal dari postulat lain : ‘barang langka’ dan banyak orang mencari, banyak orang berminat, suka pada mutiara, dan berani membayar demi memilikinya, dan terus berkembang rangkaian postulat itu. Dan kumpulan postulat ini yang menjadi dasar pijakan untuk menyatakan serangkain rumus, teori bagi pengetahuan yang sudah didispilinkan menjadi ilmu. Apakah di dimensi nirfisik itu kumpulan postulat bisa dipakai, ya pengetahuan hanya serangkaian postulat saja, yang kita yakini karena kita tahu dan merasakannya, persis seperti analogi madu dan buah anggur. Tidak mutlak batu keras dan mutiara berharga, kondisi itu menyesuaikan postulat dan kondisi di sana. Mutiara berharga karena sedikit dan banyak peminat, tapi kalau mutiara berjumlah seperti pasir, tergelatk di semua sudut ruang, apakah berharga ? nilai pengetahuan menjadi in absolut bukan ? nah sampai dimana person memposisikan diri melepas kumpulan postulat dalam ranah fisik untuk diserahkan pada postulat lain, hukum yang berlaku disana. Lalu sulitkah? Ya bagi sebagai al murid, pejalan pemula sangat sulit sebab masih di kuasai kalimat serba ‘tidak mungkin’ dan mustahil. Berkuasanya postulat ‘mustahil’ dan ‘tidak mungkin’ masih ada dalam tatar halus ke-akuan- diri bahwa saya benar dan itu salah.
Semakin menembus masuk ke dalam dari menaklukan an nafs tantangan nafs juga semakin halus, tetapi sangat kuat. Seperti terjebak pada spektrum ingin ‘digdaya’ atau ‘waskita’, watak ini tidak lain adalah keinginan dari maujud aku dalam kondisi tertentu, masih tidak beranjak dari sifat manusia an sich. Aku menjadi tidak aku merupakan proses untuk masuk, meleburkan diri pada Kehendak (muraqabah) yang membawa pada dimensi putih hingga dimensi tiada warna, hanya terang saja tidak ada sesuatu apapun selain personifikasi dirinya yang wujudnya sama persis dialah ruh al idhofi, si guru sejati .Dalam dimensi terang itulah hakikat keakuan lenyap dalam pasrah (aslama) atas segal keadaan dan paham akan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Al ilma’menyeruak dalam rulang kesadaran menjadi panduan dalam perjalanan fisiknya kelak setelah sadar kembali. Dalam al ilma’ lewat al ilma’ pemahaman hakekat terkomunikasikan, masuklah pada dimensi tak terhingga yang masih membentang segala kemungkinan dan pengalaman.
Tak Terhingga
Apakah akan berhenti setelah menemukan kesunyian dan tenggelam dalam hening hidup? Tidak, semua proses hukum alam kembali berjalan apa adanya, perbedaanya mereka para penjelajah ini tahu makna kejadian yang menimpa dirinya, peristiwa lingkungannya, karena ketersingkapan sebagai keniscayaan itu sendiri. Tapi itu bukan lagi kehendaknya. Dalam tahapan ini seorang salik sudah tidak memiliki kehendak diri, tidak ada lagi keinginan, mati dalam hidup, berjalan-diperjalankan dalam keinginan Al Khalik, inilah arti manunggaling kawula kelawan gusti. Tidak ada lagi aku yang bersumber dari keinginan diri lawwammah, terbebas seperti kupu yang lepas dari fase kepompong. Dan pengambilan kata, nama bagi dimensi itu merupakan pinjaman kata, bahasa untuk komunikasi verbal antar manusia yang terbatas ini agar imaji kita mampu mennagkap apa yang deskripsikan, cicipilah laksana madu. Dan permakain kata untuk menggambarkan ‘keadaan’ demikian masih banyak, tergantung dari mana ia memulainya, tergantung dari perbendaharaan postulat macam apa yang dimilikinya, seperti menyebut air, toya, banyu, water dan seterusnya.
Ruh Al Idhofi berarti kembaran atau saudara yang darinya pemahaman sadar, kumpulan postulat terserap dalam akal dan menjadi terbenarkan, tapi bagi yang insan yang ‘tidak bangun’ tidak melakukan ‘fase pertemuan’ ia tidak berada dalam ‘posisi’ wawansabda dan tahu. Maka benarkah apa yang meyeruak dalam relung hati manusia, saat sendirian, saat sedang tidak berkomunikasi dengan orang lain, saat sedang berfikir adalah ruh al idhofi, yang melaluinya Adam Makrifat terpersonifikasi.
Tiada lagi Subsisten dan Eksisten, menjadi satu dalam hal (suatu predikat keadaan). Tiada sebab melainkan satu. Meski emanasinya beragam seibarat telapak tangan yang satu berwarna gelap dan satunya berwarna putih. Dari sisi gelap ini terpancar dan diakui keMutlaqkanNya oleh pemilik jisim yang lebih halus dari jisim fisik manusia, yang biasanya ia bergerak dalam disiplin tu dan to. Ya, bahwa makhluk penghuni bumi bukan manusia saja. Ia ada jauh sebelum kehidupan manusia ada, tapi tidak sedikit di antara mereka cenderung pada sisi lainnya. Jisim halus tidak tersentuh oleh indera, karena lebih halus. Jika kehalusan itu bisa dilampui terbentanglah kasunyatan mahkluk purwakala negeri. Keberadaan milyaran sel dalam fisik manusia saja masih terasa asing dan tidak dirasa keberadaanya.
Dunai jisim halus lebih sering dikatakan sebagai dunia gaib, padahal yang gaib adalah segala sesuatu yang tidak bisa dicerap lewat indriawi manusia. Hanya dirasakan keberadaanya ketika sudah diposisikan pada sebuah obyek, sebagaimana ‘ruh’, ‘daya hidup’ tidak berasa keberadaanya, hanya terlihat pada sebuah obyek hewan (sekumpulan marteri fisik) yang hidup, pada tumbuhan yang memanjang setiap hari (tidak pada tumbuhan mati) energi listrik pada perangkat lisrik, meski hanya seutas tambaga, dan seterusnya. Kalimat ini bukan pembenaran lewat ilmu science, tapi hanya meminjam kata untuk menggambarkan apa yang dimaksudkan oleh orang lain, kecuali seseorang mampu berkomunikasi dalam al ilma’ yang tidak menggunakan bahasa verbal linguistik.
Makna benar bukan lagi klaim mereka yang ada di posisi warna putihnya tangan, dalam sisi gelapnya tangan ada adagium yang memberikan pengenalan untuk menghantar mahkluk untuk mengenal Sang Absolut, semisal paham kapitayaan yang dibawa oleh Sang Hyang Hasmara, Sang Hyang Badanantra hingga moyangnya Dang Hyang Semar. Dan mereka mahkluk yang mengenal Sang Absolut lewat sisi putihnya tangan sebagaimana mereka yang ada dalam theosofi. Ingat, ada diktum dalam sebuah ajaran kebenaran, bahwa ‘Setan’ juga tahu bahwa ia hanya wajib tunduk pada Tuhan, saking tunduknya kaum ini disuruh bersujud pada manusia saja enggan. Hanya Dia yang tahu kebenaran Sejati.
Theosofi
Theosofi merupakan paham kebenaran yang memandang persatuan umat manusia tanpa gender, ras, sekat agama dan keyakinan ia membawa paham persaudaraan universal. Tetapi tidak bagi pemahaman theosphia yang memberikan maka penalaran atas theologi. Maka tidak semua penalran logika berarti theosofi, sebab ia harus berbasisi pada ketuhanan Wujud Absolut, Al Huwa tanpa dasar ini berari pemikiran menelaah segal aspek metafisis berkecenderungan sebagai humanisme sekuler. Memesahkan posisi campur tangan Pencipta pada ciptaannya, dan itu mustahil sebab tidak mungkin sel, atau benda mati melahirkan benda hidup, sel hidup.
Maka setiap person, orang yang melakukan penelaahan, berpikir tentang ciptaan dan merenungi ciptaan berarti ia berpikir teologis, karena hanya lewat pendekatan pada makhlukk, ciptaan baru bisa menangkap mengakui jejak ke agungan Pencipta. Di setiap penciptaan dalam semua bentuk mahkluk, mulai dari sel sederhana hingga mahkluk hidup dan mahkluk non materi terkandung bukti Kuasa Tuhan. Inilah novum organum yang kelak semestinya bisa mendasari pemikiran pengetahun kontemporer, tidak melepaskan zat dari Kuasa Tuhan
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Aali 'Imraan, 3:18)
Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yangtelah Engkau ajarkan kepada kami;sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah, 2: 32)
Kamis, 19 Juli 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar